Imam hanya tersenyum
mendengar pertanyaan Bahrul barusan.
“Gini Rul. Kamu pernah telat
nggak ngumpulin tugas ke dosen?”
“Pernah Tu. Tugas nya pak
Maryoso.”
“Tapi tetep lu kumpulin kan?”
“Iya. Tetep di kumulin lah,
kalau enggak, pak Maryoso bisa ngadat.”
“Nah begitupun dengan shalat.
Gue shalat karena gue pengen ngumpulin tugas gue sama Allah. Urusan di terima
atau tidak nya, itu urusan Allah. Yang penting gue udah ngumpulin tugas gue
yaitu shalat itu sendiri.”
“Oh gitu ya. tapi kan tetep
aja nggak bakalan di teirma.”
“Nah itu dia salah nya
manusia. Yang suka menyimpang dari tugas nya.”
“Maksud Lu apa?”
“Gini Rul. Manusia itu di
ciptakan untuk beribadah kepada Allah. Kita tidak boleh memikirkan apakah
ibadah kita akan di terima oleh Allah atau tidak. Yang harus kita pikirkan
adalah bagaimana caranya supaya kita bisa beribadah dengan sebaik mungkin.
Urusan di terima atau tidak nya itu keputusan Allah. Karena Dia adalah hakim
yang seadil-adil nya.”
“Gue masih bingung nih” kata
bahrul sambil menggaruk-garil kepalanya yang tidak gatal.
“Yeh… singkatnya gini Rul.
Kita jangan mengambil tugas Tuhan yaitu menentukan sesuatu. Tugas kita hanya
beribadah dan berusaha di muka bumi ini.” Ungkap Imam sambil menyeruput kopi
Bahrul.
“Yeh… buat sendiri,” Bahrul
sewot.
“Pelit amat sih,” lagi-lagi
imam menyeruput kopi Bahrul.
“Ah lu mah, abis entar.”
Keduanya terdiam menikmati
secangkir kopi hangat dipadu udara dingin Jatinangor pagi itu. Imam tidak
berangkat kuliah, karena sudah tidak sempat lagi.




0 komentar:
Posting Komentar