Sore ini langit tampak tak cerah,
sejak pagi air tak henti-hentinya terjun
memandikan bumi. Seorang gadis setengah berlari menyusuri trotoar yang tak
beratap. Jilbab biru mudanya sudah setengah basah. Dilihatnya plang bertuliskan
“CV. KomputerIndo” yang tampak sudah dekat. Gadis itu semakin mempercepat
gerakan kakinya agar segera bertemu dengan seseorang yang sejak 10 menit
terakhir terus-terusan menghubunginya. Hari ini Bilqis bertandang ke kantor
Rachma. Tanpa banyak basa-basi Bilqis segera menuju ke ruangan sahabatnya.
Semua orang kantor Rachma memang sudah mengenal Bilqis, hampir seminggu sekali
ia selalu menemui Rachma.
“Waalaikumsalam… Masya Alloh Bil, kamu ujan-ujanan?
Aku sudah menelponmu dari tadi, kenapa tidak kau angkat? Aku kan bisa
menjemputmu !!” Tanya Rachma bertubi-tubi lalu mempersilahkan Bilqis duduk.
Sadar dengan ekspresi Bilqis yang tidak seperti biasanya, Rachma bertanya
dengan lembut dan hati-hati.
“Kamu kenapa?”
Lama tak ada jawaban, akhirnya Rachma memutuskan untuk
membawakan segelas teh hangat untuk sahabatnya yang terlihar lesu.
“Minumlah,” Rachma menyodorkan gelas berisi teh yang
masih setengah mengepul itu pada Bilqis.
“Aku akan menikah,” celetuk Bilqis tanpa menghiraukan
jatah teh miliknya dan malah fokus memainkan jemarinya yang pucat kedinginan.
“Tentu saja Bil, aku juga hahaha…,”
“Besok, dan aku tidak bercanda !!” nada bicara Bilqis
mulai naik, ia menatap Rachma dengan berkaca-kaca. Rachma tak sampai hati
melihat sahabatnya yang terlihat murung. Ia mencoba menenangkan Bilqis,
diusapnya lembut punggung tangan Bilqis. “Ceritakanlah…,” bisik Rachma.
“Laki-laki mapan dan Insya Alloh shalih, tiga hari
yang lalu datang kerumah ku, ia
berbincang dengan Abi lalu memintaku untuk jadi pendampingnya,” Terang
Bilqis terisak.
“Lalu kenapa Kau…,” Belum sempat Rachma menyelesaikan
kalimatnya, Bilqis segera menyambar.
“Aku tak siap!” air matanya pun semakin deras mengalir
membanjiri pipi mulusnya. Rachma merangkul Bilqis dengan penuh kehangatan.
“Dengar… Kau wanita cantik yang beruntung kawan, tidak
kah kau lihat dia memuliakanmu? Dia tak mengajakmu berpacaran kan? Kumpul-kumpul tak jelas seperti kebanyakan
remaja saat ini.”
“Tapi….”
“Dengarkan…,”
kali ini Rachma tak membiarkan Bilqis untuk memotong kalimatnya. “Apa
Kau tau? Harusnya Kau bangga, laki-laki itu serius padamu. Jika Aku boleh
protes, dan jika protesku pada Alloh ini
tak dosa, ingin sekali aku meminta agar Alloh
menjodohkan laki-laki itu untuku, karena yang ku lihat Kau sama sekali
tak bersyukur. Apa lagi yang menghambatmu? Kau sudah istikharah?”
Bilqis semakin tertunduk dan mengangguk kecil dalam
rangkulan Rachma.
“Lantas?” Rachma melepaskan pelukannya lalu menggenggam bahu
Bilqis agar Bilqis menatap matanya.
“Aku baru sekali bertemu dengannya, bagaimana bisa aku
jatuh cinta padanya?” Bilqis masih terisak.
“Yaa Rabbi…, sempit sekali pikiranmu kawan. Apa Kau sudah
bicara pada Abi mu, kalau Kau belum siap dan berniat menolaknya?” Rachma
menautkan kedua alisnya.
“Belum,” jawab Bilqis lirih.
“Lantas?” Rachma terlihat tak sabar.
“Aku mengincar sesuatu,” jawab Bilqis tegas disela
tangisanya.
Bersambung…,




0 komentar:
Posting Komentar