Senin, 07 Januari 2013

Sore ini langit tampak tak cerah, sejak  pagi air tak henti-hentinya terjun memandikan bumi. Seorang gadis setengah berlari menyusuri trotoar yang tak beratap. Jilbab biru mudanya sudah setengah basah. Dilihatnya plang bertuliskan “CV. KomputerIndo” yang tampak sudah dekat. Gadis itu semakin mempercepat gerakan kakinya agar segera bertemu dengan seseorang yang sejak 10 menit terakhir terus-terusan menghubunginya. Hari ini Bilqis bertandang ke kantor Rachma. Tanpa banyak basa-basi Bilqis segera menuju ke ruangan sahabatnya. Semua orang kantor Rachma memang sudah mengenal Bilqis, hampir seminggu sekali ia selalu menemui Rachma.

“Assalamu’alaikum,” sapa Bilqis terengah-engah. Wajahnya Nampak tak karuan, antara ragu, galau, dan tak ada raut keceriaan seperti biasanya.
 “Waalaikumsalam… Masya Alloh Bil, kamu ujan-ujanan? Aku sudah menelponmu dari tadi, kenapa tidak kau angkat? Aku kan bisa menjemputmu !!” Tanya Rachma bertubi-tubi lalu mempersilahkan Bilqis duduk. Sadar dengan ekspresi Bilqis yang tidak seperti biasanya, Rachma bertanya dengan lembut dan hati-hati.
 “Kamu kenapa?”
 Lama tak ada jawaban, akhirnya Rachma memutuskan untuk membawakan segelas teh hangat untuk sahabatnya yang terlihar lesu.
 “Minumlah,” Rachma menyodorkan gelas berisi teh yang masih setengah mengepul itu pada Bilqis.
 “Aku akan menikah,” celetuk Bilqis tanpa menghiraukan jatah teh miliknya dan malah fokus memainkan jemarinya yang pucat  kedinginan.
 “Tentu saja Bil, aku juga hahaha…,”
 “Besok, dan aku tidak bercanda !!” nada bicara Bilqis mulai naik, ia menatap Rachma dengan berkaca-kaca. Rachma tak sampai hati melihat sahabatnya yang terlihat murung. Ia mencoba menenangkan Bilqis, diusapnya lembut punggung tangan Bilqis. “Ceritakanlah…,”  bisik Rachma.
 “Laki-laki mapan dan Insya Alloh shalih, tiga hari yang lalu datang kerumah ku,  ia berbincang dengan Abi lalu memintaku untuk  jadi pendampingnya,” Terang Bilqis terisak.
 “Lalu kenapa Kau…,” Belum sempat Rachma menyelesaikan kalimatnya, Bilqis segera menyambar.
 “Aku tak siap!” air matanya pun semakin deras mengalir membanjiri pipi mulusnya. Rachma merangkul Bilqis dengan penuh kehangatan.
 “Dengar… Kau wanita cantik yang beruntung kawan, tidak kah kau lihat dia memuliakanmu? Dia tak mengajakmu berpacaran kan?  Kumpul-kumpul tak jelas seperti kebanyakan remaja saat ini.”
“Tapi….”
 “Dengarkan…,”  kali ini Rachma tak membiarkan Bilqis untuk memotong kalimatnya. “Apa Kau tau? Harusnya Kau bangga, laki-laki itu serius padamu. Jika Aku boleh protes, dan jika protesku pada Alloh  ini tak dosa, ingin sekali aku meminta agar Alloh  menjodohkan laki-laki itu untuku, karena yang ku lihat Kau sama sekali tak bersyukur. Apa lagi yang menghambatmu? Kau sudah istikharah?”
Bilqis semakin tertunduk dan mengangguk kecil dalam rangkulan Rachma.
“Lantas?” Rachma melepaskan pelukannya lalu menggenggam bahu Bilqis agar Bilqis menatap matanya.
 “Aku baru sekali bertemu dengannya, bagaimana bisa aku jatuh cinta padanya?” Bilqis masih terisak.
“Yaa Rabbi…, sempit sekali pikiranmu kawan. Apa Kau sudah bicara pada Abi mu, kalau Kau belum siap dan berniat menolaknya?” Rachma menautkan kedua alisnya.
“Belum,” jawab Bilqis lirih.
 “Lantas?” Rachma terlihat tak sabar.
 “Aku mengincar sesuatu,” jawab Bilqis tegas disela tangisanya.

Bersambung…,


0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!