Jumat, 22 Januari 2016

Ada banyak hal yang membuat kita sering bertanya, mengapa harus aku yang lahir ke dunia? Ada yang sudah bisa menjawabnya, ada yang belum bisa, ada pula yang merasa bisa padahal cuma sok-sokan bisa. Ya, biasanya yang kayak gini tuh yang suka ikut-ikutan orang lain karena ingin terlihat keren.

Menarik sebenarnya pertanyaan di awal tadi. Pasalnya dari milyaran sperma yang masuk ke rahim, hanya satu atau dua atau tiga mungkin (haha) yang lahir dan jadi manusia hidup.

Pertanyaan ini menggelitik sekali bagi saya yang diberi watak nyeleneh. Saya sering bertanya jika bukan Imam (saya) yang dilahirkan oleh ibu, lantas siapa penggantinya? Apakah tetap laki-laki atau malah perempuan? Apakah namanya tetap Imam atau jadi Heru atau Herman, atau jadi siapapun lah? Apa masih lahir di kampung Babakan, Kab. Sukabumi atau malah diluar negeri? Jika bukan aku yang lahir dari ibuku sekarang terus aku lahir dari ibu yang mana? Lebih kaya kah? Lebih miskin kah? Suku Sunda kah?

Pertanyaan itu kadang membuat saya takbisa tidur semalaman. Saya hanya penasaran bagaimana Allah s.w.t. mengatur manusia yang segini banyaknya. Padahal ada uang taat, ada pula yang tidak.

Sampai pada suatu hari saya bertemu seorang bapak-bapak tukang kaligrafi di sebuah desa. Beliau memberi tahu saya bahwa hidup ini harus benar-benar dinikmati, bukan sok dinikmati.

Pada dasarnya manusia selalu rindu bahagia dan yang membuat seseorang bahagia itu selalu sama, yakni Ketenangan. Entah bagaimana pun cara mendapatkannya. Tapi yang pasti, beliau menegaskan bahwa ketenangan yang dicari setiap orang itu sama, dan pasti sesuatu yang baik.

...

Rabu, 04 Maret 2015

“Aaron. Aaron. Hey Aaron Ead, ke depan, kerjakan soal nomor tujuh!”

Aku tersadar dari lamunan. Sejenak kuperhatikan seisi kelas memandang kearahku. Bu Inon, guru matematika yang ternyata sedang mengajar tengah memasang muka masam. Aku bukannya takingin memerhatikan pelajaran matematika. Hanya saja materi yang hari ini dijelaskan Bu Inon sudah sangat kukuasai.

Setelah melihat sekilas soal yang ditunjuk Bu Inon, aku bangkit dari duduk kemudian menuju ke depan kelas. Ekspresi Bu Inon masih tetap sama, masam. Dia memang dikenal sebagai guru yang sangat tegas. Banyak murid yang sudah menjadi korban rotan sepanjang satu meter yang selalu ia bawa ketika mengajar. Kolot sekali cara mengajarnya, tetapi jika tidak begitu, mungkin murid-murid yang ia ajar tidak akan mengerjakan PR dan belajar dengan tidak sungguh-sungguh.

Kuambil spidol yang tergeletak di atas meja Bu Inon. Matanya menatapku tajam. Tidak heran, murid yang terlambat dua menit saja sudah mendapatkan dua kali cepretan tongkat sunggokong, apalagi aku yang sejak awal pelajaran tak memerhatikannya.

Beberapa detik kemudian aku kembali ketempat duduk di pojok kelas. Kutuliskan angka delapan di ujung soal yang tertulis di papan tulis. Seisi kelas kembali melihatku. Bu Inon yang entah menunjukkan ekspresi apa menatapku lekat-lekat.

“Aaron, bisa kamu jelaskan jawabanmu? Mengapa isinya hanya angka delapan?”

“Sederhana Bu, tinggal ibu bagi semua soal itu dengan seratus lalu kelikan empat, selanjutnya tinggal jumlahkan. Hasilnya akan sama dengan cara yang ibu ajarkan di sana,” jawabku seraya menunjuk ke arah papan tulis.

“Sebenarnya kamu cukup pintar dipelajaran matematika, tetapi sikapmu harus diperbaiki lagi,” sergah Bu Inon. Bukannya mengoreksi jawabanku, ia malah mengomentari sikapku.

“Apakah saya melakukan kesalahan?” tanyaku dengan nada sedikit menantang.

“Jelas,” sahutnya meninggi. “Kamu melamun sepanjang pelajaran saya, dan itu adalah sebuah kesalahan.”

“Saya sudah mengerti semua materi yang hari ini Ibu ajarkan, jadi untuk apa saya memerhatikan lagi. Memerhatikan hal yang sudah saya tahu hanya akan membuat saya mengantuk. Saya sudah menjawab pertanyaan itu dengan benar, jadi saya tidak melakukan kesalahan apapun kan?”

“Aaron, berani sekali kamu. Saya akan kosongkan nilai kamu,” jawab Bu Inon dengan nada mengancam.

“Jika jawaban saya memang tidak ada yang benar, silahkan Ibu memberi saya nilai yang buruk. Tetapi, jika jawaban saya benar, apakah adil jika Ibu masih memberi saya nilai yang buruk,” jawabku datar.

“Kamu tidak punya sopan santun Aaron.” Bentaknya sambil menggebrak meja.

“Sekarang siapa yang meninggikan suara dan menggebrak meja? Padahal sekarang kita sedang ada dalam kegiatan belajar-mengajar?” sahutku santai.

Seisi kelas mungkin sudah gerah melihat pertengkaran kami yang semakin memanas. Bu Inon merasa bahwa aku tidak sopan, sedangkan aku merasa bahwa apa yang kulakukan tidak lah salah. Aku sudah menjawab soal dengan benar, jika perlu, akan kujelaskan pelajaran yang baru saja dijelaskan Bu Inon. Orang dewasa memang aneh, mereka suka memaksakan kehendaknya. Kesopanan bagiku hanya tentang mengganggu atau tidaknya kita terhadap orang lain.

Tidak lama setelah pertengkaranku dengan Bu Inon, bel pulang berbunyi. Seperti kebanyak anak SMA lain, mendengar bunyi bel tanda pulang adalah hal yang sangat dinantikan oleh teman-temanku di kelas. Kulihat Bu Inon masih sangat marah padaku. Tatapannya tajam menerkam mataku. Namun, aku takmerasa tertekan sedikitpun. Bagiku Bu Inon adalah gambaran untuk orang yang selalu ingin diperhatikan. Mungkin jauh di dalam hatinya ia takut murid-muridnya tidak mengerti apa yang dia ajarkan, makannya dia selalu tegas dengan  Aku tidak membencinya. Justru sebaliknya, aku sangat menghormatinya.

Setelah memasukan beberapa buku ke dalam tas, aku bergegas keluar dari kelas. Tujuanku selanjutnya adalah ekstrakulikuler basket. Setelah mengganti pakaian dengan pakaian olahraga, aku segera menuju lapangan yang terletak di tengah-tengah sekolah. Lapangan tempatku berlatih adalah lapangan serbaguna, jadi selain basket, ada murid lain yang sedang menendang-nendang bola futsal. Di pinggir lapangan, kulihat sekumpulan murid perempuan sedang tersenyum-senyum melihatku dibalik pagar besi. Entah apa yang mereka bicarakan, ah aku pun takpeduli.

Sejatinya aku tidak terlalu tertarik dengan basket. Aku mengikuti ekstrakulikuler ini hanya untu mengisi waktu luang saja, ditambah lagi, olahraga adalah kegiatan yang bisa membuat tubuh sehat. 
Aku hanya takingin merasakan sakit. Kata ibu sebelum meninggal, sakit itu tidak enak. Makannya aku ikut berolahraga.

Baru beberapa saat aku berlatih, beberapa butir air mulai menetes dari langit. Aku menengadah sejenak, kuangkat tangan untuk merasakan beberapa tetes hujan yang sebentar lagi mungkin akan menjadi badai.

“Aaron. Aaron. Cepat berteduh. Kenapa kamu diam di situ?”

Aku menoleh kearah suara yang memanggilku. Kulihat sekeliling lapangan sudah tidak ada orang, hanya menyisakan Aaron Ead, seorang yang dianggap aneh oleh seisi sekolah. Cara mereka memandangku sangat berbeda dengan cara ibu memandangku. Hampir tidak ada yang melihatku dengan tatapan normal. Mereka memicingkan mata seolah aku adalah objek yang aneh untuk dilihat. Aku takmengerti, tetapi apa peduliku. Ini bukan suatu masalah. Kalaupun aku dianggap bukan manusia, aku takpeduli sama sekali. Toh, banyak yang dianggap sebagai manusia tetapi kelakuannya sama sekali takmencerminkan manusia, bahkan lebih mirip hewan.

Beberapa saat kemudian aku ikut menepi dari lapangan, mengambil tas dan pergi ke toilet untuk mencuci tangan dan ganti baju.

“Aaron, tunggu! Kamu tidak apa-apa?” ucap seorang gadis setengah berteriak yang mengikutiku.

Aku menoleh sebentar. Memerhatikan siapa yang baru saja berbicara. Raut wajahnya menyiratkan ekspresi khawatir. Aku takmengerti apa yang dia khawatirkan dan mengapa dia khawatir.

“Iya, aku tidak apa-apa,” jawabku singkat.

Kulihat gadis itu hendak mengucapkan kata-kata selanjutnya. Tetapi aku cepat-cepat pergi. Takpenting sama sekali. Sampai aku berjalan beberapa langkah, tidak ada tanda-tanda ia mengikuti. Mungkin dia merasa sakit hati karena aku tidak menanggapi sesuai apa yang dia inginkan. Sifat manusia, ia selalu berharap dan ketika hal yang diharapkan tidak sesuai harapan, ia akan kecewa kemudian menyerah dan jatuh.

Akhirnya gerimis menjelma hujan. Murid yang belum pulang berteduh di kelas masing-masing. Ada yang mengobrol, becanda, bermain gitar, dan hal lain yang aku taktahu apa. Tempat yang biasa kutempati jika sedang seperti ini adalah sebuah bangku panjang yang jarang sekali diduduki murid lain. Konon, bangku yang biasa kududuki itu adalah bangku tempat meninggalnya salah seorang siswi di sekolah ini. Arwah dari siswi itu katanya masih gentayangan dan sering menampakkan diri kala senja tiba. Kisah ini diceritakan Maul, teman sekelasku, dengan begitu menggebu-gebu. Ia mengatakan gadis itu kini tengah mencari siapa pembunuh yang mengakhiri hidup dan mengikatnya dibangku itu. Maul begitu bersemangat bercerita walau aku tidak bertanya sama sekali tentang hal yang ia ceritakan waktu itu.

Tanpa memerdulikan cerita Maul beberapa waktu lalu, aku mulai melangkah menuju bangku yang terletak di depan lab kimia itu. Kulihat bangku itu normal-normal saja. tidak ada bayangan gadis yang sedang mencari pembunuhnya. Hal mistis memang masih terasa di tempat yang mereka sebut kota ini. Jika di kampungku, aku masih bisa memaklumi hal-hal yang dianggap mistis karena di sana masih ada ritual-ritual yang katanya diperuntukkan untuk arwah para leluhur yang masih bersemayam dikuburannya. Tetapi di sini, di tempat yang aku saja sudah merasa kebisingan dengan kata gaul, kekinian, gengsi, dan polusi yang meracuni. Sudah tidak banyak pohon yang bisa ditinggali oleh makhluk halus. Jika aku jadi mereka, aku akan transit dari sini ke kampungku yang masih sejuk dan banyak hutan. Yang bisa kubayangkan adalah setan-setan di sini sudah menggunakan tabung oksigen untuk bernapas karena sudah tidak ada lagi udara segar di kota ini, beruntung sekolahku masih memiliki beberapa pohon rindang, setidaknya aku tidak perlu memakai tabung oksigen untuk bernapas.

Disela-sela buku yang ada ditasku, terselip buku pribadi yang sering kuisi. Semacam buku diari, tetapi tidak berisi curhatan yang tidak penting. Hal yang kutulis adalah hal yang menurutku penting seperti ekspresi manusia, tingkah, pandanganku mengenai hidup, norma, sosial, dan beberapa puisi tentang hidup.

Dihari yang hampir senja ini aku menulis tentang harapan. Dimana aku tidak mengerti sama sekali tentang itu. Bagiku harapan hanya hal yang diciptakan oleh orang yang berharap agar ia mempunyai semangat. Aku tidak mengerti mengapa manusia menggantukan semangatnya pada harapan, yang menurutkuk hanya sebuah hal yang semu karena tidak ada yang pasti di sana.

Manusia selalu berharap tentang hal yang membuat dia termotivasi oleh harapannya sendiri. Selalu berharap tentang hal yang membuatnya senang tanpa memikirkan bagaimana jika harapannya tidak sesuai ekspektasi. Biasanya mereka akan kecewa dan jatuh. Lama untuk bisa bangkit lagi. Walaupun yang kudengar ada beberapa orang yang bisa sembuh dengan cepat, tetapi hanya beberapa dari jutaan orang yang ada di negara ini.


Banyak motivator yang mengatakan bahwa hidup berawal dari harapan. Aku sama sekali tidak setuju. Bagaimana kamu menggantungkan hidupmu pada hal yang semu, pada hal yang tidak tahu apakah nyata atau tidak. Harapan adalah ketidakjelasan yang dianggap jelas. Harapan adalah black hole yang akan menarik pemiliknya ke dalam tempat tanpa nama, tanpa benda, abu-abu, dan penuh tanda tanya. Kautidak perlu harapan untuk hidup, cukup jalani saja. Harapan hanya akan membuatmu tejatuh, jika kautidak punya mental yang kuat, kau akan selamanya terjatuh dan mati di sana. 

Senin, 02 Maret 2015

Aku tak mengerti dengan mereka yang mampu berkorban susah payah dengan mengatasnamakan cinta. Akupun takmengerti apa itu cinta. Setiap kutanya arti cinta kepada orang lain, jawabannya selalu berbeda. Ada yang mengatakan cinta itu anugerah, ada yang mengatakan cinta itu kebahagiaan, ada pula yang mengatakan cinta itu penyakit, hal yang membuat sakit. Sebenarnya mana yang benar. Aku belum pernah jatuh cinta, dan mungkin takakan pernah. Aku takmengerti apa itu cantik dan tampan. Aku takmengerti apa itu sedih dan senang. Hidupku lurus-lurus saja, tanpa ada gelombang di dalamnya.

Cara pandangku mengenai hidup mungkin berbeda dengan orang lain. Bagiku takada ambisi yang tersirat dalam pikiran. Takada hasrat yang membuatku bersemangat atau meredup. Aku taksuka berlari kencang dalam hidup, yang kupikirkan adalah ketika berlari kencang dan terpeleset, akan sangat sulit untuk bangkit kembali. Semakin cepat kauberlari, semakin sakit jika kauterjatuh. Mengerikan, aku takmau terjebak dalam luka yang mengerikan, yang membuat orang bisa putus asa.
Bagiku hidup cukup berjalan saja, takperlu berlari. Ketika ada lubang yang besar, kaubisa menghindarinya dengan mudah, jarang orang terperosok ke dalam jurang ketika ia berjalan disuatu tebing. Ia akan melangkah dengan hati-hati dan menghindari setiap kerikil yang bisa menggoyahkan keseimbangannya. Dengan berjalan kautidak akan terlalu lelah,jika diibaratkan ketika kauberjalan, kau hanya perlu satu botol air untuk menghilangkan dahaga, dan ketika kauberlari, kaubutuh sepuluh botol air.

Berlari memang membuatmu lebih cepat mencapai tujuan, tetapi apa artinya tujuan jika ditengah jalan langkah kaki sudah terhenti karena lubang yang tidak bisa dihindari. Sakitnya tuh di sini kan? Tujuan yang indah hanya angan-angan ketika raga tak mampu lagi berlari dan terkapar diperjalanan.
Hidupku memang tidak berwarna, jika ada warna yang tepat untuk mengibaratkan hidupku mungkin abu-abu. Hampa tak berisi. Orang lain bilang bahwa hidupku takbermakna, tetapi aku bilang hidupku sangat berwarna, dalam abu-abu, aku bisa meilhat merah, hijau, biru, jingga, hitam kehidupan. Takmengertikah kalian, bahwa rasa nyaman hanya bisa diartikan oleh orang itu sendiri, tidak  bisa diartikan oleh orang lain. Kalian ini kenapa? Atau aku yang kenapa?

Temankku, Agus, mengatakan bahwa aku takberemosi karena jarang tersenyum. Pertanyaanku adalah bagaimana kaubisa memastikan emosi seseorang hanya dari ekspresi yang mereka keluarkan. Contohnya begini, seorang pelayan toko baju akan terus tersenyum kepada pelanggannya walaupun sebenarnya ia merasa jengkel. Ia tidak bisa marah karena ada batasan derajat di situ, yaitu pelanggan dan pelayan. Jika pelayan melakukan kesalahan, ia akan dimarahi dan meminta maaf, tetapi jika pelanggan yang melakukan kesalahan, pelanggan itu akan dengan mudah dimaafkan. Bukankah senyum yang ditampilkan pelayan itu palsu?

Aku hanya takingin menipu siapapun. Jarang tersenyum bukan berarti aku selalu bersedih, aku jarang sekali bersedih. Terkahir kali aku bersedih adalah ketika ibuku meninggalkanku untuk selamanya. Setelah itu, aku taktahu apakah aku pernah bersedih kembali atau belum. Satu rasa yang kutahu aku selalu merindukannya.

Sulit untuk menemukan hal yang membuatkuk bisa tersenyum, lawakan diacara telivisi pun aku hanya anggap sebagai hal yang tidak lucu sama sekali. Bukan mereka yang tidak lucu, karena teman-temanku selalu tertawa ketika melihat mereka. Hanya semua ini tetangku, entah apa yang menurutku lucu. Semua abu-abu bagiku. Hah, apa aku normal atau abnormal.
Hidup yang saat ini kujalani takpernah kupersulit. Aku percaya, tidak ada hal yang sukar di dunia ini. Masalahnya adalah apakah kita mau melakukannya atau tidak. Aku taksuka berusaha terlalu keras. Semua kualirkan begitu saj, tanpa hambatan tanpa tantangan.

Orang lain sering berkata bahwa mereka sangat sulit menghadapi sesuatu yang mereka anggap sulit. Sebenarnya mereka lah yang menganggapnya sulit. Intinya mereka menyulitkan dirinya sendiri. Empati, merasa tidak enak, mindset yang berlebihan, membuat mereka takbisa berkutik sama sekali menghadapi masalah mereka. Yang pada akhirnya mereka tertekan dan putus asa.

Aku takpernah merasa kasihan kepada orang. Bagiku semua orang sudah diberikan porsinya masing-masing. Aku perncaya terhadap takdir Tuhan bahwa Ia telah menuliskannya di mega server yang Ia ciptakan. Kita hanya boneka opera, yang Ia mainkan sesuka hatinya. Kita takbisa mendahului kehendaknya. Dia yang memutuskan kapan kita berhenti, kapan kita bergerak. Emosi yang Ia ciptakan adalah keunikan untuk membuat menarik panggung sandiwara ini. Pernahkah kau bertanya mengapa kauada? Pernahkah kaubertanya untuk apa kaudicipta? Kemudian apakah cita-cita yang kauagung-agungkan itu adalah ujung perjalanan? Semua Dia yang memutuskan, bukan kita.

Minggu, 31 Agustus 2014

Hari ini aku berpikir mengenai cinta. Sudah terlalu mainstream memang, tetapi cinta adalah topik yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Mengapa? Jawabannya jelas, karena setiap orang punya definisi masing-masing mengenai cinta.

Terkait definisi, aku mempunyai definisiku sendiri mengenai cinta. Menurut pemikiranku yang abal-abal, cinta ialah anugerah, membuat setiap yang merasakannya penuh dengan kebahagiaan. Namun, ada yang bertanya, jika cinta adalah anugerah, mengapa dalam kenyataannya banyak orang yang terluka karena cinta? Jawabanku hanya satu, bukan cinta yang menyebabkan manusia terluka, tetapi manusia yang membuat dirinya terluka.

Aku bisa membuktikan bahwa cinta itu tidak menyakiti manusia. Kebanyakan orang yang mengatakan bahwa cinta itu menyakitkan adalah para ABG yang putus cinta atau kehilangan pasangannya. Orang-orang yang seperti ini adalah orang yang belum mengerti hakikat dari kata "memiliki". Pada dasarnya, apa yang kita punya di dunia ini bukanlah milik kita. Semuanya adalah milik yang Maha Memiliki. Bagaimana bisa kita mengklaim kita memiliki sesuatu, padahal kita tidak memiliki sesuatu tersebut. Bahkan raga kita sendiri.

Kesadaran akan arti "memiliki" di sini sangat lah penting. Bukan hanya pada soal cinta, tetapi dalam segala hal. Kesadaran ini yang menentukan apakah kita akan merasa sedih ketika yang Maha Memiliki mengambil kembali sesuatu yang Ia titipkan kepada kita.

Jumat, 25 Juli 2014

Mungkin Anda heran dengan sebutan mobil 'setan'. Atau Anda membayangkan mobil yang dimasuki roh halus? Haha...
Tentu saja bukan itu maksudnya. Sebutan mobil setan adalah untuk mobil jenis colt mini yang beroprasi Bogor-Sukabumi.

Kenapa disebut mobil setan?
Sebenarnya alsannya cukup sederhana, hal itu dikarenakan mobil ini suka kebut-kebutan. Tidak peduli lalin sedang ramai atau sepi, mobil setan ini akan terus menambah kecepatannya.

Tidak hanya itu, aturan selama masih ada celah, selama itu penumpang bisa dinaikkan. Tidak peduli kondisi sudah enuh sesak.

Tanggapan masarakat tentang mobil ini sangat beragam. Dari mulai suka ugal-ugalan sampai disebut mobil tidak ber-rem. Tetapi, ada juga yang memberi komentar positif. Seperti "bagus mas,  cepet, jdi ceat sampai."

Mungkin Anda heran dengan sebutan mobil 'setan'. Atau Anda membayangkan mobil yang dimasuki roh halus? Haha...
Tentu saja bukan itu maksudnya. Sebutan mobil setan adalah untuk mobil jenis colt mini yang beroprasi Bogor-Sukabumi.

Kenapa disebut mobil setan?
Sebenarnya alsannya cukup sederhana, hal itu dikarenakan mobil ini suka kebut-kebutan. Tidak peduli lalin sedang ramai atau sepi, mobil setan ini akan terus menambah kecepatannya.

Tidak hanya itu, aturan selama masih ada celah, selama itu penumpang bisa dinaikkan. Tidak peduli kondisi sudah enuh sesak.

Tanggapan masarakat tentang mobil ini sangat beragam. Dari mulai suka ugal-ugalan sampai disebut mobil tidak ber-rem. Tetapi, ada juga yang memberi komentar positif. Seperti "bagus mas,  cepet, jdi ceat sampai."

Mudik adalah kebiasaan yang bertransformasi menjadi budaya di Indonesia. Budaya mudik ini biasanya dilakukan ketika hari lebaran tiba.

Banyaknya perantau yang mencari nafkah di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota lainnya, membuat budaya mudik menjadi hal yang sering diperbincangkan. Tak heran memang, mengingat pada setiap tahunnya budaya mudik melibatkan ratusan bahkan jutaan orang. Tentu saja, tujun pemudik adalah pulang ke kampung halaman dengan selamat.

Masalah yang banyak terjadi pada saat mudik adalah kelelahan. Hal ini terjadi akibat jauhnya tujuan pulang dan faktor psikologis seperti keinginan ingin cepat sampai, padahal keadaan lalu lintas sedang padat.

Secara psikologis, seseorang aka  mengalami stres ketika mendapatkan tekanan yang tidak terkendali dari luar tubuh, akibatnya adalah kelelahan. Tekanan yang dimaksud adalah tekanan disaat mudik, seperti macet, suara bising, dll.

Sayangnya, para pemudik banyak yang mengacuhkan faktor kelelahan ini yang akhirnya berujung pada tingkat fokus berkurang, dan berujung pada kecelakaan.

Sekadar tips untuk para pemudik.

1. Pastikan kondisi Anda dalam keadaan fit, tidak dalam tekanan yang besar.
2. Niatkan dari rumah untuk tidak secepatnya sampai ke kampung halaman, tetapi niatkan untuk sampai ke kampung halaman dengan selamat.
3. Buat suasana senyaman mungkin ketika dalam perjalanan.
4. Beristirahatlah jika badan Anda sudah mulai lelah. Jangan memaksakan diri. Banyak kasus kecelakaan terjadi akibat pemudik yang memaksakan diri ketika sudah lelah.
5. Terus berdoa, agar Allah selalu mengiringi perjalanan Anda. Jadikan waktu ISOMA sebagai jeda untuk rehat.

Penulis mengucapkan selamat mudik, selamat hati raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin, semoga kita kembali ke dalam fitrah dan biaa berkumpul dengan keluarga tercinta.

NB. Pada saat menulis artikel ini, penulis sedang mudik juga. Karawang-Bogor-Sukabumi.

Salam... :D

Selasa, 22 Juli 2014

Saluut
Ketika yang kurasa tinggal kenangan
Jauh aku memandang
Berharap masa depan akan seindah bayangan

Berlalu
Entah kapan aku memulai
Dan saat ini aku akan mengakhiri

Jatuh
Aku tersandung bayangan semu di hati
Terbelenggu dengan ketakutan dalam diri
Merangkak di atas duri hidup yang tak bertepi

Bangkit
Saat kata pembangun jiwa menyusup hati
Menumbuhkan gairah hidup akan mati
Membangunkan diri dari mimpi tanpa ujung
Menyapu prasangka melempar duka

Jumat, 11 April 2014





Satu



INI MEMBOSANKAN


 Ini terlalu membosankan. Bagiku semua ini tak berarti. Keadaan ini, susasana ini, canda-tawa mereka, penjelasan guru, aku hanya merasa hampa di ruang kelas ini.

“Hey, Fa. Kenapa bengong aja?” suara Gilang menyadarkanku dari lamunan ini.
“Oh, iya, pada kemana anak-anak?” tanyaku polos.
“Kamu sakit ya? Semuanya udah pada istirahat, kamu malah melamun aja. Ayo mau ikut ke kantin nggak?”
“Nggak deh. Aku lagi males keman-mana nih. Aku mau tidur aja.”
Euleuh, ari si ujang ganteng. Yaudah, aku ke kantin dulu. Dah...”

Aku hanya melambaikan tangan ke arah Gilang yang mulai menghilang dibalik pintu kelas. Kulihat hanya ujung rambutnya saja yang muncul dibalik jendela. Hanya dia temanku, ucapku dalam hati.
Kuteruskan lamunanku di ruang hampa ini. Kutatap sekeliling kelas. Kuperhatikan semua benda mati ini. Bangku, meja guru, papan tulis, ah kenapa aku bosan dengan semua ini.

Tanpa sadar aku mulai menutup mataku. Mencoba merasakan gerak udara yang mengalir disekitarku. Menelusuri setiap getaran dan sentuhan debu-debu yang beterbangan.
Tiba-tiba bisikan itu tiba.

“Ada apa denganmu Fa?” tanya suara itu. Entah darimana karena aku masih menutup mataku.
“Siapa itu?” tanyaku sambil terus menutup mata.
“Coba kamu tebak siapa aku.”
“Aku tidak bisa. Aku belum pernah mendengar suaramu di sini.”
“Apakah kamu yakin?”
“Ya, aku sangat yakin. Kamu orang asing tapi kenapa terasa akrab?”
“Itu karena aku adalah bayanganmu.”
“Tapi suaramu seperti wanita. Kamu tidak mungkin aku.”
“Mungkin saja. Aku adalah Alfa wanita.”
“Ah tidak mungkin.”
“Boleh aku membelai wajahmu Fa?”
“Tidak boleh. Aku tidak suka disentuh oleh orang asing.”
“Sudah aku bilang, aku bukan orang asing!”
“Kok, suara kamu berubah?”
“Apanya yang berubah?”
“Suara kamu seperti Bu Inon. Guru bahasa inggrisku?”
“INI MEMANG SAYA!!”
“HAH....”

Aku tersadar. Semua orang di kelasku tertawa. Kulirik ke atas dengan sedikit menengadah. Terlihat mata Bu Inon tajam menatapku.
Waduh mati aku.
“Alfa!” bentak Bu Inon.
“Iya Bu,” jawabku gemetar.
“Kenapa kamu tidur di kelas?”
“Nggak sadar Bu, Maaf,” jawabku polos
Semua orang di kelasku kembali tertawa.
Gilang teman sebangku ku paling keras tertawa. Dia memang ‘kambing’, tidak membangunkanku.
“Sekarang kamu ibu hukum.”
“Dihukum Bu?” tanyaku kaget.
“Iya, kamu sekerang ke depan. Angkat kaki sebelah dan tangan kanan mengacung.”
“Aduh Bu, jangan dong. Aku kan tidak sengaja tidur Bu.”
Gilang kembali tertawa diikuti oleh yang lain.
“Masa tidur tidak sengaja. Tidak ada alasan. Cepat kamu lakukan hukuman ibu!.”
“Iya, Iya Bu. Baik.”
Dengan kaki sedikit bergetar aku berjalan ke depan kelas. Kulihat Gilang masih saja tertawa.
“Kambing lo,” bisikku kepada Gilang.
“Haha... makannya kalau tidur jangan kayak kebo. Gini jadinya. Silahkan budak ganteng, ka payun.”

Kutinggalkan Gilang dengan senyum pahitnya. Di depan kelas aku mengangkat kaki kananku. Kuacungkan tangan kananku. Kulihat murid wanita di depanku cekikan memerhatikanku. Ah peduli amat. Aku tidak peduli. Ungkapku dalam hati.

Tok... tok... tok...
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas.
Paling anak kelas XII yang mengirim dispen untuk anggota mereka di kelas XI. Ya itu di kelasku. Bu. Inon membuka pintu dan keluar kelas beberapa saat. Kulihat Gilang masih saja menertawakanku. Kambing memang tuh orang.

Bu Inon masuk kembali ke dalam kelas diikuti oleh seseorang. Kuperhatikan wanita yang mengikuti Bu Inon.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan siswi baru,” kata Bu Inon sambil mempersilahkan anak baru itu ke depan.

Kulihat orang-orang di kelas mulai berbisik-bisik. Bukannya murid wanita yang lebih sibuk berbisik-bisik, tapi kulihat justru murid laki-laki yang lebih ribut.
Kuperhatikan murid baru yang ada di sebelahku. Dia memang cantik, tinggi, rambut sebahu dengan sedikit poni. Gayanya terlihat tomboy, hanya saja harus aku akui dia sedikit manis. Tapi ah, menurutku biasa saja. 
Tidak ada yang spesial.

“Silahkan Nak perkenalkan diri kamu kepada teman-teman,” kata Bu Inon kepada anak baru tersebut.
“Selamat siang, perkenalkan namaku Diana Zahra. Kalian bisa memanggilku Dian atau Zahra. Aku pindahan dari SMKN 1 Yogyakarta. Salam kenal semuanya,”

Aku diam seketika. Dilidahku tertahan kata-kata yang sangat ingin kukatakan. Ingin aku mengatakannya tapi tidak bisa.
Apakah kamu orang asing tapi terasa akrab itu?
***

Kamis, 28 November 2013

Gini nih kalau gue lagi bad mood, nggak bisa ngomong, susah tidur, dan susah buang air besar . Bukan, sebenarnya bukan itu, gue cuman, emh... cuman... emmmmhh.. cuman pengen punya pacar.

Hampir dua tahun gue jomblo, asli JOMBLO. Selama dua tahun itu juga gue berusaha mencari cewek yang tepat dan yang membuat gue nyaman. Dalam benak gue sering terlintas cewek yang menyenangkan dan perfectlah menurut gue. Ada banyak cewek yang gue taksir, mereka cantik, baik, dan macam-macam kelebihan lainnya. Dan selama dua tahun ini pula gue berusaha mendapatkan perhatian mereka dan selalu saja hasilnya NIHIL.

Ada banyak hal yang membuat gue selalu ingin punya pacar. Pertama, gue iri dengan teman-teman gue di kampus yang tiap hari mesra-mesraan terus dengan pacarnya. (mesra di sini maksudnya akrab banget gitu loh). Kedua, gue sadar bahwa dalam prinsip hidup gue, ternyata gue memerlukan perhatian. (gue emang kurang perhatian, tapi nggak pernah caper). Ketiga, yang terakhir, Gue selalu ingin ada orang di sisi gue. Kadang-kadang gue selalu ngerasa sendiri dan butuh teman, (bukannya gue nggak punya teman loh).

Ya, alangkah indahnya jika ada yang selalu menemani kita, iya kan? Itu yang selalu gue pikirin selama ini. Makan bareng, nonton bareng, jalan bareng, dll. (tidak termasuk tidur bareng yak). Gue selalu mikir, kapan ya gue bisa kayak orang lain yang punya pacar?. Tanda tanya BESAR.

Saking bingungnya, suatu hari gue bertanya ke salah satu sahabat terbaik gue, Maul namanya. Gue bertanya tentang kenapa gue nggak pernah bisa dapet pacar. Awalnya gue yakin kalau si Maul ini bakalan ngasih saran yang bijak, ternyata gue salah. Jawaban si Maul ternyata di luar dugaan, dia bilang:

"Elu nggak akan punya pacar, Elu ITEM, JELEK, BAU, dan yang terpenting, ELU JOMBLOOO... Hahaha"

Sialan.

Oke, perlu gue jelasin, takut kalian yang baca salah nada pas baca jawaban si Maul di atas. Sebenernya iya, gue emang item, gue juga ehm... jelek, kalau bau, gue nggak ngerasa, soalnya si kampret Maul biasanya lebih bau dari gue. Kalau masalah jomblo, hmm... nggak ada komentar.

Hari berikutnya, gue udah lupain perkataan si kampret Maul, dan gue bertanya ke salah satu teman gue yang lain, kali ini wanita.

Namanya Nunung, kalau kalian ngira Nunung ini tampangnya kayak Nunung OVJ, kalian salah besar. Nunung ini foto model brooo, cantik, tinggi, baik, perfectoooo. Tapi Sayang udah punya KAMBING".

Ceritanya bergini...
Waktu itu jam lima sore, gue sama teman-teman UKM lagi ngebahas tentang acara pertandingan yang UKM gue adakan. Oh ya, gue item-item juga atlet tenis meja. Setelah acara rapat selesai, gue deketin tuh si Nunung foto model itu, terus gue nanya.

"Nung, gue mau nanya nih."
"Nanya apa?," balas dia.
"Gini, kenapa ya gue nggak bisa punya pacar?"

Alih-alih bukannya Nunung yang jawab malah temen gue, Fadel, yang jawab.

"Soalnya elu IMUT Mam,"
"Maksud Lo?" tanya gue heran.
"ITEM MUTLAAAAK, HAHA...."

Kambing, nggak ada temen gue yang waras ternyata. Gue kan g item-item amat, seenggaknya pas gue bercermin, gue masih bisa ngelihat diri gue sendiri.
Semua di ruangan UKM tertawa, gue kan jadi tersipu malu, walau nggak kelihatannya merah di pipi gue. Kalin pasti tahu kenapa.

Tiba-tiba si Nunung foto model ngomong.

"Haha, bukannya gitu Imaam," katanya dengan halus.
"Gini lo, kamu itu nggak pernah berusaha buat dapetin cewek yang kamu suka. Kamu cuman diem aja terus bilang sukanya di hati aja. Gue sebagai cewek nggak mungkin deketin cowok duluan. Kamu harusnya deketin cewek duluan Mam, Gitu,"

Gue bengong. Kata-kata si Nunung memang bener. Gue selalu saja nggak PD kalau mau deketin cewek. Takut ini lah, takut itu lah. Gue salalu berharap cewek-cewek datang sendirinya pada gue. Padahal siapa gue? Artis bukan, orang pinter juga bukan, (maksudnya cerdas ya, bukan Dukun).

Dari sanalah akhirnya gue dapet pencerahan, gue harus berani dateng duluan buat deketin cewek, jemput bola istilah kerennya.

Nah, hari ini, tanggal 29 November 2013, gue masih JOMBLO hehe... Bukannya gue nggak mau punya pacar, tapi setelah dipikir-pikir, gue lebih nyaman sendiri dan berjalan sendirian itu ternyata tidak terlalu buruk. Masih banyak hal yang ingin gue lakukan. Keliling Indonesia salah satunya. Hahaha...

Masih banyak mimpi-mimpi yang belum gue capai. Gue yakin, suatu saat akan ada cewek yang bisa menerima gue apa adanya, dan tentunya bisa jadi pacar gue. Jodoh itu nggak akan lari kemana, tapi harus dicari, itu kata temen gue, dan cara gue mencari jodoh gue adalah dengan menggapai mimpi gue dulu.

Sukses harga mati untuk gue si ITEM JOMBLO. :D

"Jangan pernah merasa sendiri hey para JOBLOWERS, kita masih punya teman-teman baik yang bisa membuat kita tertawa. Kita masih punya hal yang harus dikerjakan selain mengejar jodoh-jodoh kita. Baikkan dulu diri kita, nanti juga jodoh yang baik akan menyusul"


Than's udah baca.

Salam JOMBLO SEJATII!!









Selasa, 03 September 2013



Hallo. Perkenalkan, nama gue Alfa. Tiga hal yang menjadi ciri khas gue yaitu ganteng, smart dan dikagumi cewek-cewek. Asli, tiga hari setelah gue membuat pernyataan tersebut, followers gue tinggal satu. Nyokap.
Oke, itu hanya pembukaan. Sebenarnya gue cuma pemuda biasa-biasa aja, masih SMA, masih perjaka dan masih jomblo, itu yang penting. Gue terlahir dengan IQ yang tidak terlalu tinggi. Gue lima bersaudara dan gue anak terakhir. Temen-temen gue bilang IQ gue cuman sisa dari kakak-kakak gue, itu terbukti mereka semua smart, selalu rangking satu dan jadi kebanggaan orang tua. Gue dikenal sebagai pemuda hitam manis. Entah itu hanya untuk menghibur gue yang mempunyai kulit gelap atau memang itu pujian tulus dari cewek-cewek yang suka sama gue. Hueeek… yang pasti temen-temen sekelas gue bilang, gue IMUT. Item Mutlak.
Di atas adalah list beberapa kekurangan gue dan kalau gue tulis semuanya, mungkin sepuluh halaman tidak akan cukup. Satu-satunya kelebihan gue adalah gue suka sekali musik, bahkan bisa disebut maniak musik. Itu menurut gue.
Gue tidak ingat kapan tepatnya gue tergila-gila dengan musik. Yang gue inget dulu pas gue kecil di kamar kakak gue ada tip dan tumpukan kaset-kaset yang waktu itu sedang hits. Nah, gue suka iseng stel sembarangan kaset yang sudah tidak ada bungkusnya itu, terakhir yang gue stel itu kalau nggak salah lagu hadad alwi. Gue kecil dengan riangnya bernyanyi yatoybah,, yatoybah,, sambil mengayunkan tangan ke bawah dan ke atas.
Ketika SMP, gue dikenalkan lagu-lagu barat sama kakak gue. Pertama lagu barat yang gue suka adalah linkin park, Numb. Walaupun sampai hari ini gue nggak pernah hafal liriknya, tapi itulah lagu yang membuat gue jadi maniak music sampai sekrang.
Cukup, itu history yang seharusnya tidak diumbar.
Masuk SMA, gue dikenal sebagai murid yang aneh, pendiam dan suka menyendiri. Aslinya gue memang pemalu dan tidak berani bertatap muka langsung dengan orang-orang baru. Alhasil gue jadi penyendiri dan lagi-lagi teman gue satu-satunya adalah music.
Musik sudah menjadi darah daging ditubuh gue, jika kalian mendengarkan music hanya sesekali ketika kalian BT, berbeda dengan gue. Gue mampu mendengarkan music 24 jam nonstop.
Semester pertama dan kedua pas SMA, temen-temen gue hanya sekelas saja. Entahlah, malas rasanya harus berbaur dengan murid lain. Gue lebih suka berdiam diri di pojok kelas sambil mendengarkan music melalu handsfree yang selalu gue bawa keman-mana.
Gue jauh dari organisasi sekolah. Kerjaan gue Cuma datang, belajar, kemudian pulang. Begitu setiap hari. Kadang bosan juga, bercakap-cakap dengan teman hanya sesekali. Gue kebanyak menonton drama kehidupan dilingkungan gue sendiri. Gue ibarat pemerhati keadaan. Diam dan terus melihat sekeliling tanpa mau bergabung. Sampai kejadian itu datang…
Setengah tujuh pagi, gue sudah berada di sekolah. Berjalan dengan menunduk melewati guru tata tertib yang menunggu murid-murid malang yang telat datang. Setelah melewati gerbang kedua, gue pakai lagi handsfree yang tadi gue copot sebelum masuk kawasan sekolah. 
bersambung...

Selasa, 21 Mei 2013


Senin, 13 Mei 2013

Jam 7.15, aku baru selesai solat Isya.  Ya, Senin ini aku melaksanakan puasa sunah dan Alhamdulillah bisa tamat sampai maghrib tadi. Menu berbuka yang kumakan sangat minim, satu gelas moccacino dan satu permen milkita rasa melon.  Masih Ingat saja.

Oke, cerita yang menkajubkan hari ini bukan hal di atas. 
 
Perutku yang sudah memberontak sejak tadi tak bisa ditahan lagi. Segera kuambil jaket karena suasana kampus malam ini sangat dingin. Hembusan angin yang membawa partikel-partikel air mulai merasuk hingga ketulang sum-sum.
Oh iya, aku setiap malam memang tinggal di sekre kampus. Bukan tidak punya kosan, tapi tinggal di sana lebih menyenangkan menurutku. 
 
Beranjak dari sekre, aku melewati atm center dan keluar melewati gerbang kampus. Biasanya gerbang ini disebut dengan gerlam (gerbang lama). Langkah demi langkah mulai kususuri jalan kecil menuju tempat pedagang-pedagang kaki lima. Tapi entah mengapa aku enggan untuk makan di sana. Bukan karena sok kaya atau apa. Sejujurnya aku adalah mahasiswa yang tidak terlalu banyak uang. Hehe..
 
Akhirnya kuputuskan untuk makan di warteg yang sering kukunjungi. Warteg ini berada di antara tempat fotocopy dan bengkel, hanya saja tempatnya lebih menjorok ke dalam.
Aku makan dengan porsi agak besar, karena memang perutku sepertinya meminta porsi lebih malam ini. Kukeluarkan novel yang aku bawa tadi dari sekre. Ya, aku senang memabaca novel, dimana saja, kapan saja. Kalau masih ada novel yang belum aku tamatkan, pasti aku bawa untuk dibaca, tentunya dalam waktu luang.
Lauk yang kupilih malam ini adalah kerang dan mie. Aku suka sekali mie. 
 
Ku buka novel maddah yang ditulis oleh Risa Saraswati. Novel yang lumayan bagus.
Sedang asyiknya makan, terdengar tiga mahasiswa wanita dating, atau lebih tepat aku panggil mereka dengan akhwat. Ya akhwat, karena terlihat kalau mereka seorang remaja mesjid.  
Bagiku sebutan wanita dan akhwat itu berbeda, walapun pada hakikatnya arti dari kedua istilah tersebut sama. Aku mengartikan akhwat sebagai wanita aktivis dakwah, sedangkan wanita adalah wanita biasa, walau berkerudung, tapi hanya berkerudung. Semoga kalian mengerti apa maksudku.
Aku selalu kagum dengan para akhwat. Akupun tidak punya alsan khusus yang bisa kuutarakan. Tapi aku selalu kagum dengan akhwat.
Tiga orang itu menghampiri bapak tukang warung. Dua orang memsan makanan, mereka berdiri didekat si bapak warung dan menunjukkan lauk pauk yang akan mereka santap. Yang menjadi perhatianku adalah satu akwat yang duduk. Dia belum memesan. Sejujurnya wajahnya memang cantik dan inner beuty yang terpancar dari wajahnya, aku jamin siapa pun tidak akan memalingkan muka dari wajahnya. Aku terdar dari lamunanku. Dan fokusku tertuju pada novel dan makanan. Tapi sesekali aku mengintip dari balik novel yang tengah aku baca. Dia juga sedang membaca sesuatu.
Penasaran, aku mencoba melihat apa yang sedang dia baca. Setelah mengangkat kepala agak tinggi. Subhanallah, sebuah mushaf tengah terbuka ditangannya. Warna pink. Masih aku ingat mushaf itu. Mulutnya yang juga berwarna ping bergerak lembut membaca surat-surat Tuhan untuk umatnya.
Aku tertegun beberapa saat. Jika kalian merasa ini biasa saja, berbeda denganku. Aku merasa ini luar biasa. Di warteg, tempat makan. Tempat manusia memuaskan nafsu makannya. Dia malah membaca Al-Quran.
Merasa curiga ada yang memerhatikan. Dia menoleh kapadaku. Sontak aku terkaget. Langsung kuturunkan kepalaku kebalik novel yang tadi kubaca. Semoga dia tidak melihatku.
Kudengar sekarang dia memesan makanan. Aku tidak berani melihatnya lagi, karena jelas, sememelas apapun aku berdoa agar dia tidak melihatku. Aku tahu dia sudah melihatku.
Kulihat makanan dipiringku sudah habis. Kebetulan aku ingin segera beranjak dari tempat itu. Sungguh aku selalu merasa malu jika berhadapan dengan wanita. Terlebih akhwat.
Aku berdiri, menghampiri kasir dan membayar. Kututup novel maddah dan segera beranjak dari warteg tersebut. Aku masih penasaran dengan sosok akhwat yang sebentar lagi akan kulewati. Tapi apa daya, aku hanya bisa menunduk, tanda malu. Sesaat sebelum aku melangkah pergi, bertepatan dengan dekatnya tubuhku dengan akhwat tersebut, aku berkata lirih “ Bidadari Syurga ”, agak terkejut dengan apa yang kuucapkan. Sepertinya dia mendengarnya.
Aku terus melangkah meninggalkan warteg itu, diujung ujung jalan. Kembali kutolehkan wajahku ke warteg itu, dan dia melihatku seraya tersenyum.
Aku pergi dengan tersenyum pula. Malam yang indah. Aku melihat bidadari syurga di warteg. Haha… cerita yang aneh, tapi ini sungguh terjadi.

Kamis, 09 Mei 2013

 Ketika hidup harus memilih, antara apa yang kita inginkan dengan apa yang tidak kita inginkan. Dan yang tidak kita inginkan ditekan oleh orang lain adalah hal terbaik untuk kita. 
Aku merenung, harus memilih yang mana? Jika aku memilih apa yang aku inginkan, aku takut itu adalah jalan yang salah karena kebodohanku dan ketidaktahuanku akan hal itu. Tetapi jika aku memilih hal yang tidak aku inginkan, aku merasa hatiku tidak tenang walaupun mereka menjamin hal itu yang terbaik untukku. Ah.. aku rasa ini memang dilema kehidupan, bagaimanapun aku harus tetap memilih satu dan menjalani resiko akan apa yang aku pilih. Life is choice… bagiku tidak bermakna apa-apa. Karena dalam kehidupan memang harus memilih, baik itu hal yang baik maupun hal yang buruk. 
Persoalan hidup bagi remaja sepertiku adalah tentang cinta. Ya… cinta. Orang yang seumuran denganku pasti pernah merasakan cinta. Walaupun sebenarnya aku tidak mengerti apa arti cinta yang sebenarnya. Terlalu banyak definisi yang harus aku gali, terlalu banyak kenyataan yang berbeda dengan definisi yang ku tahu tentang cinta. 
Ah… cinta memang mengandung banyak arti, hanya satu kata tetapi memiliki ribuan makna, sampai akhirnya aku menyimpulkan definisi cinta menurutku sendiri. Menurutku arti cinta hanya dapat didefinisikan oleh orang yang mengalaminya saja, karena arti cinta itu fleksibel. Satu orang dengan orang lain pasti berbeda mendefiniskan tentang cinta. 
Aku juga begitu, bagiku cinta tak bisa didefinisikan oleh satu orang, kadang bagi mereka indah tapi bagiku menyakitkan . kadang bagi mereka bahagia tapi bagiku menyedihkan. Semua tergantung orang yang mengalaminya saja. Aku hanya berjalan melewati permasalah cinta ini dengan terus maju dan maju, masa lalu aku jadikan sebagai pelajaran, dan kedepan hanya sebuah kemungkinan, jadi aku hanya mengalir saja, melewati sela-sela batu kehidupan.

Rabu, 20 Maret 2013

Renung hatiku diam
Ketika hujan hiasi malam
Rapuh nafasku pelan
Saat raga tak mampu berjalan

Rasanya baru kemarin aku bangkit
Tapi kini aku terjatuh kembali
Saat dia pergi..
Bersama semangat yang baru saja ku lewati

Telah lama aku sendiri
Sendiri melewati jutaan rasa
Rasa sepi yang penuh dengan ironi
Ironi yang tidak pernah pergi
 

 Jauh di dasar jiwa
Aku ingin berbagi kembali
Berbagi rasa yang telah lama mati
Tapi kepada siapa?
Aku pun tidak tahu

Tapi sudahlah...
Diam adalah kristal bagiku
Karena ketika hati bicara
Aku yakin, semua akan terasa indah



Senin, 07 Januari 2013

Sore ini langit tampak tak cerah, sejak  pagi air tak henti-hentinya terjun memandikan bumi. Seorang gadis setengah berlari menyusuri trotoar yang tak beratap. Jilbab biru mudanya sudah setengah basah. Dilihatnya plang bertuliskan “CV. KomputerIndo” yang tampak sudah dekat. Gadis itu semakin mempercepat gerakan kakinya agar segera bertemu dengan seseorang yang sejak 10 menit terakhir terus-terusan menghubunginya. Hari ini Bilqis bertandang ke kantor Rachma. Tanpa banyak basa-basi Bilqis segera menuju ke ruangan sahabatnya. Semua orang kantor Rachma memang sudah mengenal Bilqis, hampir seminggu sekali ia selalu menemui Rachma.

Kamis, 03 Januari 2013



Lembayung perlahan melambai ke arah ku
Menyambut sang senja di ufuk barat
Menunjukkan betapa indahnya dirimu
Dengan kuning emas mu
Kau hiasi langit sampai tertelan warna mu

Aku hanya mampu menyanjung mu
Menyanjung setiap guratan mega di ufuk barat
Menyanjung dengan cara ku
Sampai kau pun malu mendengarnya




Siang ini sang surya begitu ganas memancar dengan teriknya. Cahayanya juga nampak tak malu untuk berebut masuk melalui jendela kaca ruang kerjaku. Ironis, saat orang-orang berfikir ini adalah hari yang indah, hatiku merasa amat gusar. Tak sabar ingin bercerita pada venus sang bintang fajar, ingin rasanya aku berlari dengan langkah seribu agar dapat menemui bidadari yang selalu setia mendengar keluh kesahku.

Kawan..
Aku rindu,

Kadang aku lelah dengan sisi ‘childish-ku’, namun apa daya aku hanya manusia yang sedang berproses. Aku tak ingin menyalahkan siapapun, yang aku incar hanyalah syurga. Firdaus yang Kau janjikan. Tuhan tidak buta, Dia juga tak tuli, aku yakin padaMu wahai sang penggengam jagad raya bahwa Kau tak akan ingkar janji kan?


Rabu, 21 November 2012


Imam hanya tersenyum mendengar pertanyaan Bahrul barusan.
“Gini Rul. Kamu pernah telat nggak ngumpulin tugas ke dosen?”
“Pernah Tu. Tugas nya pak Maryoso.”
“Tapi tetep lu kumpulin kan?”
“Iya. Tetep di kumulin lah, kalau enggak, pak Maryoso bisa ngadat.”
“Nah begitupun dengan shalat. Gue shalat karena gue pengen ngumpulin tugas gue sama Allah. Urusan di terima atau tidak nya, itu urusan Allah. Yang penting gue udah ngumpulin tugas gue yaitu shalat itu sendiri.”
“Oh gitu ya. tapi kan tetep aja nggak bakalan di teirma.”
“Nah itu dia salah nya manusia. Yang suka menyimpang dari tugas nya.”
“Maksud Lu apa?”
“Gini Rul. Manusia itu di ciptakan untuk beribadah kepada Allah. Kita tidak boleh memikirkan apakah ibadah kita akan di terima oleh Allah atau tidak. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya supaya kita bisa beribadah dengan sebaik mungkin. Urusan di terima atau tidak nya itu keputusan Allah. Karena Dia adalah hakim yang seadil-adil nya.”
“Gue masih bingung nih” kata bahrul sambil menggaruk-garil kepalanya yang tidak gatal.
“Yeh… singkatnya gini Rul. Kita jangan mengambil tugas Tuhan yaitu menentukan sesuatu. Tugas kita hanya beribadah dan berusaha di muka bumi ini.” Ungkap Imam sambil menyeruput kopi Bahrul.
“Yeh… buat sendiri,” Bahrul sewot.
“Pelit amat sih,” lagi-lagi imam menyeruput kopi Bahrul.
“Ah lu mah, abis entar.”
Keduanya terdiam menikmati secangkir kopi hangat dipadu udara dingin Jatinangor pagi itu. Imam tidak berangkat kuliah, karena sudah tidak sempat lagi.

“Mam… Mam….” Sebuah suara memanggil sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar kos Imam. 
Imam mulai terbangun dari tidur nya tetapi hanya kesadarannya saja. Sedangkan matanya masih saja tertutup rapat.
“Hmmm… ada apa Rul?”
“Lu mau ke kampus nggak hari ini?”
“Mau… tapi nanti jam delapan aja.”
“Yeh… ini udah jam  setengah sepuluh woy.”
Imam tiba-tiba melek. Tangannya ribut mencari handphone yang biasanya disimpan di dekat wajahnya. 
“Astagfirullah… gue nggak shalat subuh.” Teriaknya setelah melihat jam di handphone nya.
Dengan cepat Imam menuju pintu kamar kos nya. Setelah dibuka. Bahrul teman satu kosannya sudah santai di depan kamar nya sambil merokok.
“Baru bangun Mam?”
“Iya Rul. Gue kesiangan.”
“Yeh… shalat subuh nggak lu?”

“Astagfirullah… nggak. Bentar ya shalat subuh dulu.”
Bahrul hanya tersenyum melihat tingkah temannya  itu.
Imam adalah mahasiswa salah satu universitas negeri di Bandung. Walaupun orangnya ceroboh, tetapi kalau soal shalat, dia tidak bisa kompromi. Hari ini dia merasakan sebuah kerugian yang sangat besar sekali. Satu waktu yang sangat berharga dia lewatkan dengan mendengkur tanpa ingat siapa yang memberikan kenikmatan tidur nya itu. Dia melewatkan satu waktu yang tidak bisa dia ganti sampai hari kiamat nanti.
“Mam… ngapain?” Teriak bahrul dari luar kamar.
“Bentar… lagi mau shalat dulu.” Jawab imam sambil menggelar sajadah ke arah kiblat.
“Shalat apaan? Shalat duha?”
“Bukan, shalat subuh.”
“Yeh… ini sudah jam berapa Mas Bro?”
“Nggak apa-apa. Yang penting kerjain dulu.”
Setelah mengucap takbir. Imam mulai terlena dengan shalatnya. Dia mengakui kesalahannya kali ini di hadapan Tuhan. Dia menyesal, berharap Tuhan mendengarnya berbicara dalam hati. Untuk Imam. Satu shalat yang terlewat, tidak akan bisa tergantikan di lain waktu. Selain karena kewajibannya sebagai seorang muslim. Dia menomorsatukan shalat juga karena Ibu nya. Ibunya selalu berkata Jangan lupa shalat ya. Karena itu yang akan di tanyakan pertama kali ketika kamu di hisab nanti.
Kata-kata itulah yang membuat Imam selalu mementingkan shalat nya. Harus tepat waktu dan tidak boleh terlewat. Namun kali ini, dia melewatkannya. Sekarang, Imam hanya berharap Allah masih menerima shalatnya yang sudah sangat terelambat. Semoga Allah mampu menerima alasannya melewatkan petemuan dengan-Nya itu.
“Udah shalat nya Mam?” tanya Bahrul setelah menyeruput kopi hitam di samping nya.
“Udah Rul.” Jawab Imam dengan nada menyesal.
“Lu kenapa masih shalat? Kan udah telat?” Tanya Bahrul sambil meletakan kembali cangkir kopinya.
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!