“Aaron. Aaron. Hey Aaron Ead, ke depan,
kerjakan soal nomor tujuh!”
Aku tersadar dari lamunan.
Sejenak kuperhatikan seisi kelas memandang kearahku. Bu Inon, guru matematika
yang ternyata sedang mengajar tengah memasang muka masam. Aku bukannya takingin
memerhatikan pelajaran matematika. Hanya saja materi yang hari ini dijelaskan
Bu Inon sudah sangat kukuasai.
Setelah melihat sekilas soal yang
ditunjuk Bu Inon, aku bangkit dari duduk kemudian menuju ke depan kelas.
Ekspresi Bu Inon masih tetap sama, masam. Dia memang dikenal sebagai guru yang
sangat tegas. Banyak murid yang sudah menjadi korban rotan sepanjang satu meter
yang selalu ia bawa ketika mengajar. Kolot sekali cara mengajarnya, tetapi jika
tidak begitu, mungkin murid-murid yang ia ajar tidak akan mengerjakan PR dan
belajar dengan tidak sungguh-sungguh.
Kuambil spidol yang tergeletak di
atas meja Bu Inon. Matanya menatapku tajam. Tidak heran, murid yang terlambat
dua menit saja sudah mendapatkan dua kali cepretan tongkat sunggokong, apalagi
aku yang sejak awal pelajaran tak memerhatikannya.
Beberapa detik kemudian aku
kembali ketempat duduk di pojok kelas. Kutuliskan angka delapan di ujung soal
yang tertulis di papan tulis. Seisi kelas kembali melihatku. Bu Inon yang entah
menunjukkan ekspresi apa menatapku lekat-lekat.
“Aaron, bisa kamu jelaskan
jawabanmu? Mengapa isinya hanya angka delapan?”
“Sederhana Bu, tinggal ibu bagi
semua soal itu dengan seratus lalu kelikan empat, selanjutnya tinggal jumlahkan. Hasilnya akan sama dengan cara yang ibu ajarkan di sana,” jawabku
seraya menunjuk ke arah papan tulis.
“Sebenarnya kamu cukup pintar
dipelajaran matematika, tetapi sikapmu harus diperbaiki lagi,” sergah Bu Inon.
Bukannya mengoreksi jawabanku, ia malah mengomentari sikapku.
“Apakah saya melakukan
kesalahan?” tanyaku dengan nada sedikit menantang.
“Jelas,” sahutnya meninggi. “Kamu
melamun sepanjang pelajaran saya, dan itu adalah sebuah kesalahan.”
“Saya sudah mengerti semua materi
yang hari ini Ibu ajarkan, jadi untuk apa saya memerhatikan lagi. Memerhatikan
hal yang sudah saya tahu hanya akan membuat saya mengantuk. Saya sudah menjawab
pertanyaan itu dengan benar, jadi saya tidak melakukan kesalahan apapun kan?”
“Aaron, berani sekali kamu. Saya
akan kosongkan nilai kamu,” jawab Bu Inon dengan nada mengancam.
“Jika jawaban saya memang tidak
ada yang benar, silahkan Ibu memberi saya nilai yang buruk. Tetapi, jika
jawaban saya benar, apakah adil jika Ibu masih memberi saya nilai yang buruk,”
jawabku datar.
“Kamu tidak punya sopan santun
Aaron.” Bentaknya sambil menggebrak meja.
“Sekarang siapa yang meninggikan
suara dan menggebrak meja? Padahal sekarang kita sedang ada dalam kegiatan
belajar-mengajar?” sahutku santai.
Seisi kelas mungkin sudah gerah
melihat pertengkaran kami yang semakin memanas. Bu Inon merasa bahwa aku tidak
sopan, sedangkan aku merasa bahwa apa yang kulakukan tidak lah salah. Aku sudah
menjawab soal dengan benar, jika perlu, akan kujelaskan pelajaran yang baru
saja dijelaskan Bu Inon. Orang dewasa memang aneh, mereka suka memaksakan
kehendaknya. Kesopanan bagiku hanya tentang mengganggu atau tidaknya kita
terhadap orang lain.
Tidak lama setelah pertengkaranku
dengan Bu Inon, bel pulang berbunyi. Seperti kebanyak anak SMA lain, mendengar
bunyi bel tanda pulang adalah hal yang sangat dinantikan oleh teman-temanku di
kelas. Kulihat Bu Inon masih sangat marah padaku. Tatapannya tajam menerkam
mataku. Namun, aku takmerasa tertekan sedikitpun. Bagiku Bu Inon adalah
gambaran untuk orang yang selalu ingin diperhatikan. Mungkin jauh di dalam
hatinya ia takut murid-muridnya tidak mengerti apa yang dia ajarkan, makannya
dia selalu tegas dengan Aku tidak
membencinya. Justru sebaliknya, aku sangat menghormatinya.
Setelah memasukan beberapa buku
ke dalam tas, aku bergegas keluar dari kelas. Tujuanku selanjutnya adalah
ekstrakulikuler basket. Setelah mengganti pakaian dengan pakaian olahraga, aku
segera menuju lapangan yang terletak di tengah-tengah sekolah. Lapangan
tempatku berlatih adalah lapangan serbaguna, jadi selain basket, ada murid lain
yang sedang menendang-nendang bola futsal. Di pinggir lapangan, kulihat
sekumpulan murid perempuan sedang tersenyum-senyum melihatku dibalik pagar besi.
Entah apa yang mereka bicarakan, ah aku pun takpeduli.
Sejatinya aku tidak terlalu
tertarik dengan basket. Aku mengikuti ekstrakulikuler ini hanya untu mengisi waktu
luang saja, ditambah lagi, olahraga adalah kegiatan yang bisa membuat tubuh
sehat.
Aku hanya takingin merasakan sakit. Kata ibu sebelum meninggal, sakit
itu tidak enak. Makannya aku ikut berolahraga.
Baru beberapa saat aku berlatih,
beberapa butir air mulai menetes dari langit. Aku menengadah sejenak, kuangkat
tangan untuk merasakan beberapa tetes hujan yang sebentar lagi mungkin akan
menjadi badai.
“Aaron. Aaron. Cepat berteduh. Kenapa
kamu diam di situ?”
Aku menoleh kearah suara yang
memanggilku. Kulihat sekeliling lapangan sudah tidak ada orang, hanya
menyisakan Aaron Ead, seorang yang dianggap aneh oleh seisi sekolah. Cara mereka
memandangku sangat berbeda dengan cara ibu memandangku. Hampir tidak ada yang
melihatku dengan tatapan normal. Mereka memicingkan mata seolah aku adalah
objek yang aneh untuk dilihat. Aku takmengerti, tetapi apa peduliku. Ini bukan
suatu masalah. Kalaupun aku dianggap bukan manusia, aku takpeduli sama sekali. Toh,
banyak yang dianggap sebagai manusia tetapi kelakuannya sama sekali
takmencerminkan manusia, bahkan lebih mirip hewan.
Beberapa saat kemudian aku ikut
menepi dari lapangan, mengambil tas dan pergi ke toilet untuk mencuci tangan
dan ganti baju.
“Aaron,
tunggu! Kamu tidak apa-apa?” ucap seorang gadis setengah berteriak yang
mengikutiku.
Aku menoleh
sebentar. Memerhatikan siapa yang baru saja berbicara. Raut wajahnya
menyiratkan ekspresi khawatir. Aku takmengerti apa yang dia khawatirkan dan
mengapa dia khawatir.
“Iya, aku
tidak apa-apa,” jawabku singkat.
Kulihat gadis
itu hendak mengucapkan kata-kata selanjutnya. Tetapi aku cepat-cepat pergi. Takpenting
sama sekali. Sampai aku berjalan beberapa langkah, tidak ada tanda-tanda ia
mengikuti. Mungkin dia merasa sakit hati karena aku tidak menanggapi sesuai apa
yang dia inginkan. Sifat manusia, ia selalu berharap dan ketika hal yang
diharapkan tidak sesuai harapan, ia akan kecewa kemudian menyerah dan jatuh.
Akhirnya gerimis
menjelma hujan. Murid yang belum pulang berteduh di kelas masing-masing. Ada yang
mengobrol, becanda, bermain gitar, dan hal lain yang aku taktahu apa. Tempat yang
biasa kutempati jika sedang seperti ini adalah sebuah bangku panjang yang
jarang sekali diduduki murid lain. Konon, bangku yang biasa kududuki itu adalah
bangku tempat meninggalnya salah seorang siswi di sekolah ini. Arwah dari siswi
itu katanya masih gentayangan dan sering menampakkan diri kala senja tiba. Kisah
ini diceritakan Maul, teman sekelasku, dengan begitu menggebu-gebu. Ia mengatakan
gadis itu kini tengah mencari siapa pembunuh yang mengakhiri hidup dan
mengikatnya dibangku itu. Maul begitu bersemangat bercerita walau aku tidak bertanya
sama sekali tentang hal yang ia ceritakan waktu itu.
Tanpa memerdulikan
cerita Maul beberapa waktu lalu, aku mulai melangkah menuju bangku yang
terletak di depan lab kimia itu. Kulihat bangku itu normal-normal saja. tidak
ada bayangan gadis yang sedang mencari pembunuhnya. Hal mistis memang masih
terasa di tempat yang mereka sebut kota ini. Jika di kampungku, aku masih bisa
memaklumi hal-hal yang dianggap mistis karena di sana masih ada ritual-ritual
yang katanya diperuntukkan untuk arwah para leluhur yang masih bersemayam
dikuburannya. Tetapi di sini, di tempat yang aku saja sudah merasa kebisingan
dengan kata gaul, kekinian, gengsi, dan polusi yang meracuni. Sudah tidak
banyak pohon yang bisa ditinggali oleh makhluk halus. Jika aku jadi mereka, aku
akan transit dari sini ke kampungku yang masih sejuk dan banyak hutan. Yang bisa
kubayangkan adalah setan-setan di sini sudah menggunakan tabung oksigen untuk
bernapas karena sudah tidak ada lagi udara segar di kota ini, beruntung
sekolahku masih memiliki beberapa pohon rindang, setidaknya aku tidak perlu
memakai tabung oksigen untuk bernapas.
Disela-sela
buku yang ada ditasku, terselip buku pribadi yang sering kuisi. Semacam buku
diari, tetapi tidak berisi curhatan yang tidak penting. Hal yang kutulis adalah
hal yang menurutku penting seperti ekspresi manusia, tingkah, pandanganku
mengenai hidup, norma, sosial, dan beberapa puisi tentang hidup.
Dihari yang hampir
senja ini aku menulis tentang harapan. Dimana aku tidak mengerti sama sekali
tentang itu. Bagiku harapan hanya hal yang diciptakan oleh orang yang berharap
agar ia mempunyai semangat. Aku tidak mengerti mengapa manusia menggantukan
semangatnya pada harapan, yang menurutkuk hanya sebuah hal yang semu karena
tidak ada yang pasti di sana.
Manusia selalu
berharap tentang hal yang membuat dia termotivasi oleh harapannya sendiri. Selalu
berharap tentang hal yang membuatnya senang tanpa memikirkan bagaimana jika
harapannya tidak sesuai ekspektasi. Biasanya mereka akan kecewa dan jatuh. Lama
untuk bisa bangkit lagi. Walaupun yang kudengar ada beberapa orang yang bisa
sembuh dengan cepat, tetapi hanya beberapa dari jutaan orang yang ada di negara
ini.
Banyak motivator
yang mengatakan bahwa hidup berawal dari harapan. Aku sama sekali tidak setuju.
Bagaimana kamu menggantungkan hidupmu pada hal yang semu, pada hal yang tidak
tahu apakah nyata atau tidak. Harapan adalah ketidakjelasan yang dianggap jelas.
Harapan adalah black hole yang akan
menarik pemiliknya ke dalam tempat tanpa nama, tanpa benda, abu-abu, dan penuh
tanda tanya. Kautidak perlu harapan untuk hidup, cukup jalani saja. Harapan
hanya akan membuatmu tejatuh, jika kautidak punya mental yang kuat, kau akan
selamanya terjatuh dan mati di sana.