Imam mulai terbangun dari
tidur nya tetapi hanya kesadarannya saja. Sedangkan matanya masih saja tertutup
rapat.
“Hmmm… ada apa Rul?”
“Lu mau ke kampus nggak hari
ini?”
“Mau… tapi nanti jam delapan
aja.”
“Yeh… ini udah jam setengah sepuluh woy.”
Imam tiba-tiba melek.
Tangannya ribut mencari handphone
yang biasanya disimpan di dekat wajahnya.
“Astagfirullah… gue nggak
shalat subuh.” Teriaknya setelah melihat jam di handphone nya.
Dengan cepat Imam menuju
pintu kamar kos nya. Setelah dibuka. Bahrul teman satu kosannya sudah santai di
depan kamar nya sambil merokok.
“Baru bangun Mam?”
“Iya Rul. Gue kesiangan.”
“Yeh… shalat subuh nggak lu?”
Bahrul hanya tersenyum
melihat tingkah temannya itu.
Imam adalah mahasiswa salah satu universitas negeri di Bandung. Walaupun orangnya ceroboh, tetapi
kalau soal shalat, dia tidak bisa kompromi. Hari ini dia merasakan sebuah
kerugian yang sangat besar sekali. Satu waktu yang sangat berharga dia lewatkan
dengan mendengkur tanpa ingat siapa yang memberikan kenikmatan tidur nya itu.
Dia melewatkan satu waktu yang tidak bisa dia ganti sampai hari kiamat nanti.
“Mam… ngapain?” Teriak bahrul
dari luar kamar.
“Bentar… lagi mau shalat
dulu.” Jawab imam sambil menggelar sajadah ke arah kiblat.
“Shalat apaan? Shalat duha?”
“Bukan, shalat subuh.”
“Yeh… ini sudah jam berapa
Mas Bro?”
“Nggak apa-apa. Yang penting
kerjain dulu.”
Setelah mengucap takbir. Imam
mulai terlena dengan shalatnya. Dia mengakui kesalahannya kali ini di hadapan
Tuhan. Dia menyesal, berharap Tuhan mendengarnya berbicara dalam hati. Untuk
Imam. Satu shalat yang terlewat, tidak akan bisa tergantikan di lain waktu.
Selain karena kewajibannya sebagai seorang muslim. Dia menomorsatukan shalat
juga karena Ibu nya. Ibunya selalu berkata Jangan
lupa shalat ya. Karena itu yang akan di tanyakan pertama kali ketika kamu
di hisab nanti.
Kata-kata itulah yang membuat
Imam selalu mementingkan shalat nya. Harus tepat waktu dan tidak boleh
terlewat. Namun kali ini, dia melewatkannya. Sekarang, Imam hanya berharap
Allah masih menerima shalatnya yang sudah sangat terelambat. Semoga Allah mampu
menerima alasannya melewatkan petemuan dengan-Nya itu.
“Udah shalat nya Mam?” tanya
Bahrul setelah menyeruput kopi hitam di samping nya.
“Udah Rul.” Jawab Imam dengan
nada menyesal.
“Lu kenapa masih shalat? Kan
udah telat?” Tanya Bahrul sambil meletakan kembali cangkir kopinya.




0 komentar:
Posting Komentar