Rabu, 21 November 2012


“Mam… Mam….” Sebuah suara memanggil sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar kos Imam. 
Imam mulai terbangun dari tidur nya tetapi hanya kesadarannya saja. Sedangkan matanya masih saja tertutup rapat.
“Hmmm… ada apa Rul?”
“Lu mau ke kampus nggak hari ini?”
“Mau… tapi nanti jam delapan aja.”
“Yeh… ini udah jam  setengah sepuluh woy.”
Imam tiba-tiba melek. Tangannya ribut mencari handphone yang biasanya disimpan di dekat wajahnya. 
“Astagfirullah… gue nggak shalat subuh.” Teriaknya setelah melihat jam di handphone nya.
Dengan cepat Imam menuju pintu kamar kos nya. Setelah dibuka. Bahrul teman satu kosannya sudah santai di depan kamar nya sambil merokok.
“Baru bangun Mam?”
“Iya Rul. Gue kesiangan.”
“Yeh… shalat subuh nggak lu?”

“Astagfirullah… nggak. Bentar ya shalat subuh dulu.”
Bahrul hanya tersenyum melihat tingkah temannya  itu.
Imam adalah mahasiswa salah satu universitas negeri di Bandung. Walaupun orangnya ceroboh, tetapi kalau soal shalat, dia tidak bisa kompromi. Hari ini dia merasakan sebuah kerugian yang sangat besar sekali. Satu waktu yang sangat berharga dia lewatkan dengan mendengkur tanpa ingat siapa yang memberikan kenikmatan tidur nya itu. Dia melewatkan satu waktu yang tidak bisa dia ganti sampai hari kiamat nanti.
“Mam… ngapain?” Teriak bahrul dari luar kamar.
“Bentar… lagi mau shalat dulu.” Jawab imam sambil menggelar sajadah ke arah kiblat.
“Shalat apaan? Shalat duha?”
“Bukan, shalat subuh.”
“Yeh… ini sudah jam berapa Mas Bro?”
“Nggak apa-apa. Yang penting kerjain dulu.”
Setelah mengucap takbir. Imam mulai terlena dengan shalatnya. Dia mengakui kesalahannya kali ini di hadapan Tuhan. Dia menyesal, berharap Tuhan mendengarnya berbicara dalam hati. Untuk Imam. Satu shalat yang terlewat, tidak akan bisa tergantikan di lain waktu. Selain karena kewajibannya sebagai seorang muslim. Dia menomorsatukan shalat juga karena Ibu nya. Ibunya selalu berkata Jangan lupa shalat ya. Karena itu yang akan di tanyakan pertama kali ketika kamu di hisab nanti.
Kata-kata itulah yang membuat Imam selalu mementingkan shalat nya. Harus tepat waktu dan tidak boleh terlewat. Namun kali ini, dia melewatkannya. Sekarang, Imam hanya berharap Allah masih menerima shalatnya yang sudah sangat terelambat. Semoga Allah mampu menerima alasannya melewatkan petemuan dengan-Nya itu.
“Udah shalat nya Mam?” tanya Bahrul setelah menyeruput kopi hitam di samping nya.
“Udah Rul.” Jawab Imam dengan nada menyesal.
“Lu kenapa masih shalat? Kan udah telat?” Tanya Bahrul sambil meletakan kembali cangkir kopinya.

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!