Aku tak mengerti dengan mereka yang mampu berkorban susah
payah dengan mengatasnamakan cinta. Akupun takmengerti apa itu cinta. Setiap
kutanya arti cinta kepada orang lain, jawabannya selalu berbeda. Ada yang
mengatakan cinta itu anugerah, ada yang mengatakan cinta itu kebahagiaan, ada
pula yang mengatakan cinta itu penyakit, hal yang membuat sakit. Sebenarnya
mana yang benar. Aku belum pernah jatuh cinta, dan mungkin takakan pernah. Aku
takmengerti apa itu cantik dan tampan. Aku takmengerti apa itu sedih dan
senang. Hidupku lurus-lurus saja, tanpa ada gelombang di dalamnya.
Cara pandangku mengenai hidup mungkin berbeda dengan orang
lain. Bagiku takada ambisi yang tersirat dalam pikiran. Takada hasrat yang
membuatku bersemangat atau meredup. Aku taksuka berlari kencang dalam hidup,
yang kupikirkan adalah ketika berlari kencang dan terpeleset, akan sangat sulit
untuk bangkit kembali. Semakin cepat kauberlari, semakin sakit jika
kauterjatuh. Mengerikan, aku takmau terjebak dalam luka yang mengerikan, yang
membuat orang bisa putus asa.
Bagiku hidup cukup berjalan saja, takperlu berlari. Ketika
ada lubang yang besar, kaubisa menghindarinya dengan mudah, jarang orang
terperosok ke dalam jurang ketika ia berjalan disuatu tebing. Ia akan melangkah
dengan hati-hati dan menghindari setiap kerikil yang bisa menggoyahkan
keseimbangannya. Dengan berjalan kautidak akan terlalu lelah,jika diibaratkan
ketika kauberjalan, kau hanya perlu satu botol air untuk menghilangkan dahaga,
dan ketika kauberlari, kaubutuh sepuluh botol air.
Berlari memang membuatmu lebih cepat mencapai tujuan, tetapi
apa artinya tujuan jika ditengah jalan langkah kaki sudah terhenti karena
lubang yang tidak bisa dihindari. Sakitnya tuh di sini kan? Tujuan yang indah
hanya angan-angan ketika raga tak mampu lagi berlari dan terkapar diperjalanan.
Hidupku memang tidak berwarna, jika ada warna yang tepat
untuk mengibaratkan hidupku mungkin abu-abu. Hampa tak berisi. Orang lain
bilang bahwa hidupku takbermakna, tetapi aku bilang hidupku sangat berwarna,
dalam abu-abu, aku bisa meilhat merah, hijau, biru, jingga, hitam kehidupan.
Takmengertikah kalian, bahwa rasa nyaman hanya bisa diartikan oleh orang itu
sendiri, tidak bisa diartikan oleh orang
lain. Kalian ini kenapa? Atau aku yang kenapa?
Temankku, Agus, mengatakan bahwa aku takberemosi karena
jarang tersenyum. Pertanyaanku adalah bagaimana kaubisa memastikan emosi
seseorang hanya dari ekspresi yang mereka keluarkan. Contohnya begini, seorang
pelayan toko baju akan terus tersenyum kepada pelanggannya walaupun sebenarnya
ia merasa jengkel. Ia tidak bisa marah karena ada batasan derajat di situ,
yaitu pelanggan dan pelayan. Jika pelayan melakukan kesalahan, ia akan dimarahi
dan meminta maaf, tetapi jika pelanggan yang melakukan kesalahan, pelanggan itu
akan dengan mudah dimaafkan. Bukankah senyum yang ditampilkan pelayan itu
palsu?
Aku hanya takingin menipu siapapun. Jarang tersenyum bukan
berarti aku selalu bersedih, aku jarang sekali bersedih. Terkahir kali aku
bersedih adalah ketika ibuku meninggalkanku untuk selamanya. Setelah itu, aku
taktahu apakah aku pernah bersedih kembali atau belum. Satu rasa yang kutahu
aku selalu merindukannya.
Sulit untuk menemukan hal yang membuatkuk bisa tersenyum,
lawakan diacara telivisi pun aku hanya anggap sebagai hal yang tidak lucu sama
sekali. Bukan mereka yang tidak lucu, karena teman-temanku selalu tertawa
ketika melihat mereka. Hanya semua ini tetangku, entah apa yang menurutku lucu.
Semua abu-abu bagiku. Hah, apa aku normal atau abnormal.
Hidup yang saat ini kujalani takpernah kupersulit. Aku percaya,
tidak ada hal yang sukar di dunia ini. Masalahnya adalah apakah kita mau
melakukannya atau tidak. Aku taksuka berusaha terlalu keras. Semua kualirkan
begitu saj, tanpa hambatan tanpa tantangan.
Orang lain sering berkata bahwa mereka sangat sulit
menghadapi sesuatu yang mereka anggap sulit. Sebenarnya mereka lah yang
menganggapnya sulit. Intinya mereka menyulitkan dirinya sendiri. Empati, merasa
tidak enak, mindset yang berlebihan, membuat mereka takbisa berkutik sama
sekali menghadapi masalah mereka. Yang pada akhirnya mereka tertekan dan putus
asa.
Aku takpernah merasa kasihan
kepada orang. Bagiku semua orang sudah diberikan porsinya masing-masing. Aku perncaya
terhadap takdir Tuhan bahwa Ia telah menuliskannya di mega server yang Ia
ciptakan. Kita hanya boneka opera, yang Ia mainkan sesuka hatinya. Kita takbisa
mendahului kehendaknya. Dia yang memutuskan kapan kita berhenti, kapan kita
bergerak. Emosi yang Ia ciptakan adalah keunikan untuk membuat menarik panggung
sandiwara ini. Pernahkah kau bertanya mengapa kauada? Pernahkah kaubertanya
untuk apa kaudicipta? Kemudian apakah cita-cita yang kauagung-agungkan itu
adalah ujung perjalanan? Semua Dia yang memutuskan, bukan kita.



0 komentar:
Posting Komentar