Jumat, 11 April 2014





Satu



INI MEMBOSANKAN


 Ini terlalu membosankan. Bagiku semua ini tak berarti. Keadaan ini, susasana ini, canda-tawa mereka, penjelasan guru, aku hanya merasa hampa di ruang kelas ini.

“Hey, Fa. Kenapa bengong aja?” suara Gilang menyadarkanku dari lamunan ini.
“Oh, iya, pada kemana anak-anak?” tanyaku polos.
“Kamu sakit ya? Semuanya udah pada istirahat, kamu malah melamun aja. Ayo mau ikut ke kantin nggak?”
“Nggak deh. Aku lagi males keman-mana nih. Aku mau tidur aja.”
Euleuh, ari si ujang ganteng. Yaudah, aku ke kantin dulu. Dah...”

Aku hanya melambaikan tangan ke arah Gilang yang mulai menghilang dibalik pintu kelas. Kulihat hanya ujung rambutnya saja yang muncul dibalik jendela. Hanya dia temanku, ucapku dalam hati.
Kuteruskan lamunanku di ruang hampa ini. Kutatap sekeliling kelas. Kuperhatikan semua benda mati ini. Bangku, meja guru, papan tulis, ah kenapa aku bosan dengan semua ini.

Tanpa sadar aku mulai menutup mataku. Mencoba merasakan gerak udara yang mengalir disekitarku. Menelusuri setiap getaran dan sentuhan debu-debu yang beterbangan.
Tiba-tiba bisikan itu tiba.

“Ada apa denganmu Fa?” tanya suara itu. Entah darimana karena aku masih menutup mataku.
“Siapa itu?” tanyaku sambil terus menutup mata.
“Coba kamu tebak siapa aku.”
“Aku tidak bisa. Aku belum pernah mendengar suaramu di sini.”
“Apakah kamu yakin?”
“Ya, aku sangat yakin. Kamu orang asing tapi kenapa terasa akrab?”
“Itu karena aku adalah bayanganmu.”
“Tapi suaramu seperti wanita. Kamu tidak mungkin aku.”
“Mungkin saja. Aku adalah Alfa wanita.”
“Ah tidak mungkin.”
“Boleh aku membelai wajahmu Fa?”
“Tidak boleh. Aku tidak suka disentuh oleh orang asing.”
“Sudah aku bilang, aku bukan orang asing!”
“Kok, suara kamu berubah?”
“Apanya yang berubah?”
“Suara kamu seperti Bu Inon. Guru bahasa inggrisku?”
“INI MEMANG SAYA!!”
“HAH....”

Aku tersadar. Semua orang di kelasku tertawa. Kulirik ke atas dengan sedikit menengadah. Terlihat mata Bu Inon tajam menatapku.
Waduh mati aku.
“Alfa!” bentak Bu Inon.
“Iya Bu,” jawabku gemetar.
“Kenapa kamu tidur di kelas?”
“Nggak sadar Bu, Maaf,” jawabku polos
Semua orang di kelasku kembali tertawa.
Gilang teman sebangku ku paling keras tertawa. Dia memang ‘kambing’, tidak membangunkanku.
“Sekarang kamu ibu hukum.”
“Dihukum Bu?” tanyaku kaget.
“Iya, kamu sekerang ke depan. Angkat kaki sebelah dan tangan kanan mengacung.”
“Aduh Bu, jangan dong. Aku kan tidak sengaja tidur Bu.”
Gilang kembali tertawa diikuti oleh yang lain.
“Masa tidur tidak sengaja. Tidak ada alasan. Cepat kamu lakukan hukuman ibu!.”
“Iya, Iya Bu. Baik.”
Dengan kaki sedikit bergetar aku berjalan ke depan kelas. Kulihat Gilang masih saja tertawa.
“Kambing lo,” bisikku kepada Gilang.
“Haha... makannya kalau tidur jangan kayak kebo. Gini jadinya. Silahkan budak ganteng, ka payun.”

Kutinggalkan Gilang dengan senyum pahitnya. Di depan kelas aku mengangkat kaki kananku. Kuacungkan tangan kananku. Kulihat murid wanita di depanku cekikan memerhatikanku. Ah peduli amat. Aku tidak peduli. Ungkapku dalam hati.

Tok... tok... tok...
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas.
Paling anak kelas XII yang mengirim dispen untuk anggota mereka di kelas XI. Ya itu di kelasku. Bu. Inon membuka pintu dan keluar kelas beberapa saat. Kulihat Gilang masih saja menertawakanku. Kambing memang tuh orang.

Bu Inon masuk kembali ke dalam kelas diikuti oleh seseorang. Kuperhatikan wanita yang mengikuti Bu Inon.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan siswi baru,” kata Bu Inon sambil mempersilahkan anak baru itu ke depan.

Kulihat orang-orang di kelas mulai berbisik-bisik. Bukannya murid wanita yang lebih sibuk berbisik-bisik, tapi kulihat justru murid laki-laki yang lebih ribut.
Kuperhatikan murid baru yang ada di sebelahku. Dia memang cantik, tinggi, rambut sebahu dengan sedikit poni. Gayanya terlihat tomboy, hanya saja harus aku akui dia sedikit manis. Tapi ah, menurutku biasa saja. 
Tidak ada yang spesial.

“Silahkan Nak perkenalkan diri kamu kepada teman-teman,” kata Bu Inon kepada anak baru tersebut.
“Selamat siang, perkenalkan namaku Diana Zahra. Kalian bisa memanggilku Dian atau Zahra. Aku pindahan dari SMKN 1 Yogyakarta. Salam kenal semuanya,”

Aku diam seketika. Dilidahku tertahan kata-kata yang sangat ingin kukatakan. Ingin aku mengatakannya tapi tidak bisa.
Apakah kamu orang asing tapi terasa akrab itu?
***

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!