INI
MEMBOSANKAN
Ini terlalu membosankan. Bagiku semua ini tak berarti. Keadaan ini, susasana ini, canda-tawa mereka, penjelasan guru, aku hanya merasa hampa di ruang kelas ini.
“Hey, Fa. Kenapa
bengong aja?” suara Gilang menyadarkanku dari lamunan ini.
“Oh, iya, pada
kemana anak-anak?” tanyaku polos.
“Kamu sakit ya?
Semuanya udah pada istirahat, kamu malah melamun aja. Ayo mau ikut ke kantin
nggak?”
“Nggak deh. Aku
lagi males keman-mana nih. Aku mau tidur aja.”
“Euleuh, ari si ujang ganteng. Yaudah,
aku ke kantin dulu. Dah...”
Aku hanya
melambaikan tangan ke arah Gilang yang mulai menghilang dibalik pintu kelas.
Kulihat hanya ujung rambutnya saja yang muncul dibalik jendela. Hanya dia
temanku, ucapku dalam hati.
Kuteruskan
lamunanku di ruang hampa ini. Kutatap sekeliling kelas. Kuperhatikan semua
benda mati ini. Bangku, meja guru, papan tulis, ah kenapa aku bosan dengan
semua ini.
Tanpa sadar aku
mulai menutup mataku. Mencoba merasakan gerak udara yang mengalir disekitarku.
Menelusuri setiap getaran dan sentuhan debu-debu yang beterbangan.
Tiba-tiba bisikan
itu tiba.
“Ada apa denganmu
Fa?” tanya suara itu. Entah darimana karena aku masih menutup mataku.
“Siapa itu?”
tanyaku sambil terus menutup mata.
“Coba kamu tebak
siapa aku.”
“Aku tidak bisa.
Aku belum pernah mendengar suaramu di sini.”
“Apakah kamu
yakin?”
“Ya, aku sangat
yakin. Kamu orang asing tapi kenapa terasa akrab?”
“Itu karena aku
adalah bayanganmu.”
“Tapi suaramu
seperti wanita. Kamu tidak mungkin aku.”
“Mungkin saja. Aku
adalah Alfa wanita.”
“Ah tidak mungkin.”
“Boleh aku membelai
wajahmu Fa?”
“Tidak boleh. Aku
tidak suka disentuh oleh orang asing.”
“Sudah aku bilang,
aku bukan orang asing!”
“Kok, suara kamu
berubah?”
“Apanya yang
berubah?”
“Suara kamu seperti
Bu Inon. Guru bahasa inggrisku?”
“INI MEMANG SAYA!!”
“HAH....”
Aku tersadar. Semua
orang di kelasku tertawa. Kulirik ke atas dengan sedikit menengadah. Terlihat
mata Bu Inon tajam menatapku.
Waduh mati aku.
“Alfa!” bentak Bu
Inon.
“Iya Bu,” jawabku
gemetar.
“Kenapa kamu tidur
di kelas?”
“Nggak sadar Bu,
Maaf,” jawabku polos
Semua orang di
kelasku kembali tertawa.
Gilang teman
sebangku ku paling keras tertawa. Dia memang ‘kambing’, tidak membangunkanku.
“Sekarang kamu ibu
hukum.”
“Dihukum Bu?”
tanyaku kaget.
“Iya, kamu sekerang
ke depan. Angkat kaki sebelah dan tangan kanan mengacung.”
“Aduh Bu, jangan
dong. Aku kan tidak sengaja tidur Bu.”
Gilang kembali
tertawa diikuti oleh yang lain.
“Masa tidur tidak
sengaja. Tidak ada alasan. Cepat kamu lakukan hukuman ibu!.”
“Iya, Iya Bu.
Baik.”
Dengan kaki sedikit
bergetar aku berjalan ke depan kelas. Kulihat Gilang masih saja tertawa.
“Kambing lo,”
bisikku kepada Gilang.
“Haha... makannya
kalau tidur jangan kayak kebo. Gini jadinya. Silahkan budak ganteng, ka payun.”
Kutinggalkan Gilang
dengan senyum pahitnya. Di depan kelas aku mengangkat kaki kananku. Kuacungkan
tangan kananku. Kulihat murid wanita di depanku cekikan memerhatikanku. Ah
peduli amat. Aku tidak peduli. Ungkapku dalam hati.
Tok... tok...
tok...
Tiba-tiba ada yang
mengetuk pintu kelas.
Paling anak kelas
XII yang mengirim dispen untuk anggota mereka di kelas XI. Ya itu di kelasku.
Bu. Inon membuka pintu dan keluar kelas beberapa saat. Kulihat Gilang masih
saja menertawakanku. Kambing memang tuh orang.
Bu Inon masuk
kembali ke dalam kelas diikuti oleh seseorang. Kuperhatikan wanita yang mengikuti
Bu Inon.
“Anak-anak, hari
ini kita kedatangan siswi baru,” kata Bu Inon sambil mempersilahkan anak baru
itu ke depan.
Kulihat orang-orang
di kelas mulai berbisik-bisik. Bukannya murid wanita yang lebih sibuk
berbisik-bisik, tapi kulihat justru murid laki-laki yang lebih ribut.
Kuperhatikan murid
baru yang ada di sebelahku. Dia memang cantik, tinggi, rambut sebahu dengan
sedikit poni. Gayanya terlihat tomboy, hanya saja harus aku akui dia sedikit
manis. Tapi ah, menurutku biasa saja.
Tidak ada yang spesial.
“Silahkan Nak
perkenalkan diri kamu kepada teman-teman,” kata Bu Inon kepada anak baru
tersebut.
“Selamat siang,
perkenalkan namaku Diana Zahra. Kalian bisa memanggilku Dian atau Zahra. Aku
pindahan dari SMKN 1 Yogyakarta. Salam kenal semuanya,”
Aku diam seketika.
Dilidahku tertahan kata-kata yang sangat ingin kukatakan. Ingin aku
mengatakannya tapi tidak bisa.
Apakah kamu orang
asing tapi terasa akrab itu?
***




0 komentar:
Posting Komentar