Rabu, 04 Maret 2015

“Aaron. Aaron. Hey Aaron Ead, ke depan, kerjakan soal nomor tujuh!”

Aku tersadar dari lamunan. Sejenak kuperhatikan seisi kelas memandang kearahku. Bu Inon, guru matematika yang ternyata sedang mengajar tengah memasang muka masam. Aku bukannya takingin memerhatikan pelajaran matematika. Hanya saja materi yang hari ini dijelaskan Bu Inon sudah sangat kukuasai.

Setelah melihat sekilas soal yang ditunjuk Bu Inon, aku bangkit dari duduk kemudian menuju ke depan kelas. Ekspresi Bu Inon masih tetap sama, masam. Dia memang dikenal sebagai guru yang sangat tegas. Banyak murid yang sudah menjadi korban rotan sepanjang satu meter yang selalu ia bawa ketika mengajar. Kolot sekali cara mengajarnya, tetapi jika tidak begitu, mungkin murid-murid yang ia ajar tidak akan mengerjakan PR dan belajar dengan tidak sungguh-sungguh.

Kuambil spidol yang tergeletak di atas meja Bu Inon. Matanya menatapku tajam. Tidak heran, murid yang terlambat dua menit saja sudah mendapatkan dua kali cepretan tongkat sunggokong, apalagi aku yang sejak awal pelajaran tak memerhatikannya.

Beberapa detik kemudian aku kembali ketempat duduk di pojok kelas. Kutuliskan angka delapan di ujung soal yang tertulis di papan tulis. Seisi kelas kembali melihatku. Bu Inon yang entah menunjukkan ekspresi apa menatapku lekat-lekat.

“Aaron, bisa kamu jelaskan jawabanmu? Mengapa isinya hanya angka delapan?”

“Sederhana Bu, tinggal ibu bagi semua soal itu dengan seratus lalu kelikan empat, selanjutnya tinggal jumlahkan. Hasilnya akan sama dengan cara yang ibu ajarkan di sana,” jawabku seraya menunjuk ke arah papan tulis.

“Sebenarnya kamu cukup pintar dipelajaran matematika, tetapi sikapmu harus diperbaiki lagi,” sergah Bu Inon. Bukannya mengoreksi jawabanku, ia malah mengomentari sikapku.

“Apakah saya melakukan kesalahan?” tanyaku dengan nada sedikit menantang.

“Jelas,” sahutnya meninggi. “Kamu melamun sepanjang pelajaran saya, dan itu adalah sebuah kesalahan.”

“Saya sudah mengerti semua materi yang hari ini Ibu ajarkan, jadi untuk apa saya memerhatikan lagi. Memerhatikan hal yang sudah saya tahu hanya akan membuat saya mengantuk. Saya sudah menjawab pertanyaan itu dengan benar, jadi saya tidak melakukan kesalahan apapun kan?”

“Aaron, berani sekali kamu. Saya akan kosongkan nilai kamu,” jawab Bu Inon dengan nada mengancam.

“Jika jawaban saya memang tidak ada yang benar, silahkan Ibu memberi saya nilai yang buruk. Tetapi, jika jawaban saya benar, apakah adil jika Ibu masih memberi saya nilai yang buruk,” jawabku datar.

“Kamu tidak punya sopan santun Aaron.” Bentaknya sambil menggebrak meja.

“Sekarang siapa yang meninggikan suara dan menggebrak meja? Padahal sekarang kita sedang ada dalam kegiatan belajar-mengajar?” sahutku santai.

Seisi kelas mungkin sudah gerah melihat pertengkaran kami yang semakin memanas. Bu Inon merasa bahwa aku tidak sopan, sedangkan aku merasa bahwa apa yang kulakukan tidak lah salah. Aku sudah menjawab soal dengan benar, jika perlu, akan kujelaskan pelajaran yang baru saja dijelaskan Bu Inon. Orang dewasa memang aneh, mereka suka memaksakan kehendaknya. Kesopanan bagiku hanya tentang mengganggu atau tidaknya kita terhadap orang lain.

Tidak lama setelah pertengkaranku dengan Bu Inon, bel pulang berbunyi. Seperti kebanyak anak SMA lain, mendengar bunyi bel tanda pulang adalah hal yang sangat dinantikan oleh teman-temanku di kelas. Kulihat Bu Inon masih sangat marah padaku. Tatapannya tajam menerkam mataku. Namun, aku takmerasa tertekan sedikitpun. Bagiku Bu Inon adalah gambaran untuk orang yang selalu ingin diperhatikan. Mungkin jauh di dalam hatinya ia takut murid-muridnya tidak mengerti apa yang dia ajarkan, makannya dia selalu tegas dengan  Aku tidak membencinya. Justru sebaliknya, aku sangat menghormatinya.

Setelah memasukan beberapa buku ke dalam tas, aku bergegas keluar dari kelas. Tujuanku selanjutnya adalah ekstrakulikuler basket. Setelah mengganti pakaian dengan pakaian olahraga, aku segera menuju lapangan yang terletak di tengah-tengah sekolah. Lapangan tempatku berlatih adalah lapangan serbaguna, jadi selain basket, ada murid lain yang sedang menendang-nendang bola futsal. Di pinggir lapangan, kulihat sekumpulan murid perempuan sedang tersenyum-senyum melihatku dibalik pagar besi. Entah apa yang mereka bicarakan, ah aku pun takpeduli.

Sejatinya aku tidak terlalu tertarik dengan basket. Aku mengikuti ekstrakulikuler ini hanya untu mengisi waktu luang saja, ditambah lagi, olahraga adalah kegiatan yang bisa membuat tubuh sehat. 
Aku hanya takingin merasakan sakit. Kata ibu sebelum meninggal, sakit itu tidak enak. Makannya aku ikut berolahraga.

Baru beberapa saat aku berlatih, beberapa butir air mulai menetes dari langit. Aku menengadah sejenak, kuangkat tangan untuk merasakan beberapa tetes hujan yang sebentar lagi mungkin akan menjadi badai.

“Aaron. Aaron. Cepat berteduh. Kenapa kamu diam di situ?”

Aku menoleh kearah suara yang memanggilku. Kulihat sekeliling lapangan sudah tidak ada orang, hanya menyisakan Aaron Ead, seorang yang dianggap aneh oleh seisi sekolah. Cara mereka memandangku sangat berbeda dengan cara ibu memandangku. Hampir tidak ada yang melihatku dengan tatapan normal. Mereka memicingkan mata seolah aku adalah objek yang aneh untuk dilihat. Aku takmengerti, tetapi apa peduliku. Ini bukan suatu masalah. Kalaupun aku dianggap bukan manusia, aku takpeduli sama sekali. Toh, banyak yang dianggap sebagai manusia tetapi kelakuannya sama sekali takmencerminkan manusia, bahkan lebih mirip hewan.

Beberapa saat kemudian aku ikut menepi dari lapangan, mengambil tas dan pergi ke toilet untuk mencuci tangan dan ganti baju.

“Aaron, tunggu! Kamu tidak apa-apa?” ucap seorang gadis setengah berteriak yang mengikutiku.

Aku menoleh sebentar. Memerhatikan siapa yang baru saja berbicara. Raut wajahnya menyiratkan ekspresi khawatir. Aku takmengerti apa yang dia khawatirkan dan mengapa dia khawatir.

“Iya, aku tidak apa-apa,” jawabku singkat.

Kulihat gadis itu hendak mengucapkan kata-kata selanjutnya. Tetapi aku cepat-cepat pergi. Takpenting sama sekali. Sampai aku berjalan beberapa langkah, tidak ada tanda-tanda ia mengikuti. Mungkin dia merasa sakit hati karena aku tidak menanggapi sesuai apa yang dia inginkan. Sifat manusia, ia selalu berharap dan ketika hal yang diharapkan tidak sesuai harapan, ia akan kecewa kemudian menyerah dan jatuh.

Akhirnya gerimis menjelma hujan. Murid yang belum pulang berteduh di kelas masing-masing. Ada yang mengobrol, becanda, bermain gitar, dan hal lain yang aku taktahu apa. Tempat yang biasa kutempati jika sedang seperti ini adalah sebuah bangku panjang yang jarang sekali diduduki murid lain. Konon, bangku yang biasa kududuki itu adalah bangku tempat meninggalnya salah seorang siswi di sekolah ini. Arwah dari siswi itu katanya masih gentayangan dan sering menampakkan diri kala senja tiba. Kisah ini diceritakan Maul, teman sekelasku, dengan begitu menggebu-gebu. Ia mengatakan gadis itu kini tengah mencari siapa pembunuh yang mengakhiri hidup dan mengikatnya dibangku itu. Maul begitu bersemangat bercerita walau aku tidak bertanya sama sekali tentang hal yang ia ceritakan waktu itu.

Tanpa memerdulikan cerita Maul beberapa waktu lalu, aku mulai melangkah menuju bangku yang terletak di depan lab kimia itu. Kulihat bangku itu normal-normal saja. tidak ada bayangan gadis yang sedang mencari pembunuhnya. Hal mistis memang masih terasa di tempat yang mereka sebut kota ini. Jika di kampungku, aku masih bisa memaklumi hal-hal yang dianggap mistis karena di sana masih ada ritual-ritual yang katanya diperuntukkan untuk arwah para leluhur yang masih bersemayam dikuburannya. Tetapi di sini, di tempat yang aku saja sudah merasa kebisingan dengan kata gaul, kekinian, gengsi, dan polusi yang meracuni. Sudah tidak banyak pohon yang bisa ditinggali oleh makhluk halus. Jika aku jadi mereka, aku akan transit dari sini ke kampungku yang masih sejuk dan banyak hutan. Yang bisa kubayangkan adalah setan-setan di sini sudah menggunakan tabung oksigen untuk bernapas karena sudah tidak ada lagi udara segar di kota ini, beruntung sekolahku masih memiliki beberapa pohon rindang, setidaknya aku tidak perlu memakai tabung oksigen untuk bernapas.

Disela-sela buku yang ada ditasku, terselip buku pribadi yang sering kuisi. Semacam buku diari, tetapi tidak berisi curhatan yang tidak penting. Hal yang kutulis adalah hal yang menurutku penting seperti ekspresi manusia, tingkah, pandanganku mengenai hidup, norma, sosial, dan beberapa puisi tentang hidup.

Dihari yang hampir senja ini aku menulis tentang harapan. Dimana aku tidak mengerti sama sekali tentang itu. Bagiku harapan hanya hal yang diciptakan oleh orang yang berharap agar ia mempunyai semangat. Aku tidak mengerti mengapa manusia menggantukan semangatnya pada harapan, yang menurutkuk hanya sebuah hal yang semu karena tidak ada yang pasti di sana.

Manusia selalu berharap tentang hal yang membuat dia termotivasi oleh harapannya sendiri. Selalu berharap tentang hal yang membuatnya senang tanpa memikirkan bagaimana jika harapannya tidak sesuai ekspektasi. Biasanya mereka akan kecewa dan jatuh. Lama untuk bisa bangkit lagi. Walaupun yang kudengar ada beberapa orang yang bisa sembuh dengan cepat, tetapi hanya beberapa dari jutaan orang yang ada di negara ini.


Banyak motivator yang mengatakan bahwa hidup berawal dari harapan. Aku sama sekali tidak setuju. Bagaimana kamu menggantungkan hidupmu pada hal yang semu, pada hal yang tidak tahu apakah nyata atau tidak. Harapan adalah ketidakjelasan yang dianggap jelas. Harapan adalah black hole yang akan menarik pemiliknya ke dalam tempat tanpa nama, tanpa benda, abu-abu, dan penuh tanda tanya. Kautidak perlu harapan untuk hidup, cukup jalani saja. Harapan hanya akan membuatmu tejatuh, jika kautidak punya mental yang kuat, kau akan selamanya terjatuh dan mati di sana. 

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!