Jumat, 22 Januari 2016

Ada banyak hal yang membuat kita sering bertanya, mengapa harus aku yang lahir ke dunia? Ada yang sudah bisa menjawabnya, ada yang belum bisa, ada pula yang merasa bisa padahal cuma sok-sokan bisa. Ya, biasanya yang kayak gini tuh yang suka ikut-ikutan orang lain karena ingin terlihat keren.

Menarik sebenarnya pertanyaan di awal tadi. Pasalnya dari milyaran sperma yang masuk ke rahim, hanya satu atau dua atau tiga mungkin (haha) yang lahir dan jadi manusia hidup.

Pertanyaan ini menggelitik sekali bagi saya yang diberi watak nyeleneh. Saya sering bertanya jika bukan Imam (saya) yang dilahirkan oleh ibu, lantas siapa penggantinya? Apakah tetap laki-laki atau malah perempuan? Apakah namanya tetap Imam atau jadi Heru atau Herman, atau jadi siapapun lah? Apa masih lahir di kampung Babakan, Kab. Sukabumi atau malah diluar negeri? Jika bukan aku yang lahir dari ibuku sekarang terus aku lahir dari ibu yang mana? Lebih kaya kah? Lebih miskin kah? Suku Sunda kah?

Pertanyaan itu kadang membuat saya takbisa tidur semalaman. Saya hanya penasaran bagaimana Allah s.w.t. mengatur manusia yang segini banyaknya. Padahal ada uang taat, ada pula yang tidak.

Sampai pada suatu hari saya bertemu seorang bapak-bapak tukang kaligrafi di sebuah desa. Beliau memberi tahu saya bahwa hidup ini harus benar-benar dinikmati, bukan sok dinikmati.

Pada dasarnya manusia selalu rindu bahagia dan yang membuat seseorang bahagia itu selalu sama, yakni Ketenangan. Entah bagaimana pun cara mendapatkannya. Tapi yang pasti, beliau menegaskan bahwa ketenangan yang dicari setiap orang itu sama, dan pasti sesuatu yang baik.

...

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!