Jam 7.15, aku baru selesai solat
Isya. Ya, Senin ini aku melaksanakan
puasa sunah dan Alhamdulillah bisa tamat sampai maghrib tadi. Menu berbuka yang
kumakan sangat minim, satu gelas moccacino dan satu permen milkita rasa melon. Masih Ingat saja.
Oke, cerita yang menkajubkan hari ini
bukan hal di atas.
Perutku yang sudah memberontak sejak
tadi tak bisa ditahan lagi. Segera kuambil jaket karena suasana kampus malam ini sangat dingin. Hembusan angin yang membawa partikel-partikel air mulai
merasuk hingga ketulang sum-sum.
Oh iya, aku setiap malam memang
tinggal di sekre kampus. Bukan tidak punya kosan, tapi tinggal di sana lebih
menyenangkan menurutku.
Beranjak dari sekre, aku melewati atm
center dan keluar melewati gerbang kampus. Biasanya gerbang ini disebut
dengan gerlam (gerbang lama). Langkah demi langkah mulai kususuri jalan kecil
menuju tempat pedagang-pedagang kaki lima. Tapi entah mengapa aku enggan untuk
makan di sana. Bukan karena sok kaya atau apa. Sejujurnya aku adalah mahasiswa
yang tidak terlalu banyak uang. Hehe..
Akhirnya kuputuskan untuk makan di warteg
yang sering kukunjungi. Warteg ini berada di antara tempat fotocopy dan bengkel,
hanya saja tempatnya lebih menjorok ke dalam.
Aku makan dengan porsi agak besar,
karena memang perutku sepertinya meminta porsi lebih malam ini. Kukeluarkan
novel yang aku bawa tadi dari sekre. Ya, aku senang memabaca novel, dimana
saja, kapan saja. Kalau masih ada novel yang belum aku tamatkan, pasti aku bawa
untuk dibaca, tentunya dalam waktu luang.
Lauk yang kupilih malam ini adalah
kerang dan mie. Aku suka sekali mie.
Ku buka novel maddah yang ditulis oleh Risa Saraswati. Novel yang lumayan bagus.
Sedang asyiknya makan, terdengar tiga
mahasiswa wanita dating, atau lebih tepat aku panggil mereka dengan akhwat. Ya akhwat,
karena terlihat kalau mereka seorang remaja mesjid.
Bagiku sebutan wanita dan akhwat itu
berbeda, walapun pada hakikatnya arti dari kedua istilah tersebut sama. Aku mengartikan
akhwat sebagai wanita aktivis dakwah, sedangkan wanita adalah wanita biasa,
walau berkerudung, tapi hanya berkerudung. Semoga kalian mengerti apa maksudku.
Aku selalu kagum dengan para akhwat. Akupun
tidak punya alsan khusus yang bisa kuutarakan. Tapi aku selalu kagum dengan
akhwat.
Tiga orang itu menghampiri bapak
tukang warung. Dua orang memsan makanan, mereka berdiri didekat si bapak warung
dan menunjukkan lauk pauk yang akan mereka santap. Yang menjadi perhatianku
adalah satu akwat yang duduk. Dia belum memesan. Sejujurnya wajahnya memang
cantik dan inner beuty yang terpancar dari wajahnya, aku jamin siapa pun tidak
akan memalingkan muka dari wajahnya. Aku terdar dari lamunanku. Dan fokusku
tertuju pada novel dan makanan. Tapi sesekali aku mengintip dari balik novel
yang tengah aku baca. Dia juga sedang membaca sesuatu.
Penasaran, aku mencoba melihat apa
yang sedang dia baca. Setelah mengangkat kepala agak tinggi. Subhanallah,
sebuah mushaf tengah terbuka ditangannya. Warna pink. Masih aku ingat mushaf
itu. Mulutnya yang juga berwarna ping bergerak lembut membaca surat-surat Tuhan
untuk umatnya.
Aku tertegun beberapa saat. Jika kalian
merasa ini biasa saja, berbeda denganku. Aku merasa ini luar biasa. Di warteg,
tempat makan. Tempat manusia memuaskan nafsu makannya. Dia malah membaca
Al-Quran.
Merasa curiga ada yang memerhatikan. Dia
menoleh kapadaku. Sontak aku terkaget. Langsung kuturunkan kepalaku kebalik
novel yang tadi kubaca. Semoga dia tidak melihatku.
Kudengar sekarang dia memesan
makanan. Aku tidak berani melihatnya lagi, karena jelas, sememelas apapun aku
berdoa agar dia tidak melihatku. Aku tahu dia sudah melihatku.
Kulihat makanan dipiringku sudah
habis. Kebetulan aku ingin segera beranjak dari tempat itu. Sungguh aku selalu
merasa malu jika berhadapan dengan wanita. Terlebih akhwat.
Aku berdiri, menghampiri kasir dan
membayar. Kututup novel maddah dan
segera beranjak dari warteg tersebut. Aku masih penasaran dengan sosok akhwat
yang sebentar lagi akan kulewati. Tapi apa daya, aku hanya bisa menunduk, tanda
malu. Sesaat sebelum aku melangkah pergi, bertepatan dengan dekatnya tubuhku
dengan akhwat tersebut, aku berkata lirih “ Bidadari Syurga ”, agak terkejut
dengan apa yang kuucapkan. Sepertinya dia mendengarnya.
Aku terus melangkah meninggalkan
warteg itu, diujung ujung jalan. Kembali kutolehkan wajahku ke warteg itu, dan
dia melihatku seraya tersenyum.
Aku pergi dengan tersenyum pula. Malam
yang indah. Aku melihat bidadari syurga di warteg. Haha… cerita yang aneh, tapi
ini sungguh terjadi.



0 komentar:
Posting Komentar