Senin, 13 Mei 2013

Jam 7.15, aku baru selesai solat Isya.  Ya, Senin ini aku melaksanakan puasa sunah dan Alhamdulillah bisa tamat sampai maghrib tadi. Menu berbuka yang kumakan sangat minim, satu gelas moccacino dan satu permen milkita rasa melon.  Masih Ingat saja.

Oke, cerita yang menkajubkan hari ini bukan hal di atas. 
 
Perutku yang sudah memberontak sejak tadi tak bisa ditahan lagi. Segera kuambil jaket karena suasana kampus malam ini sangat dingin. Hembusan angin yang membawa partikel-partikel air mulai merasuk hingga ketulang sum-sum.
Oh iya, aku setiap malam memang tinggal di sekre kampus. Bukan tidak punya kosan, tapi tinggal di sana lebih menyenangkan menurutku. 
 
Beranjak dari sekre, aku melewati atm center dan keluar melewati gerbang kampus. Biasanya gerbang ini disebut dengan gerlam (gerbang lama). Langkah demi langkah mulai kususuri jalan kecil menuju tempat pedagang-pedagang kaki lima. Tapi entah mengapa aku enggan untuk makan di sana. Bukan karena sok kaya atau apa. Sejujurnya aku adalah mahasiswa yang tidak terlalu banyak uang. Hehe..
 
Akhirnya kuputuskan untuk makan di warteg yang sering kukunjungi. Warteg ini berada di antara tempat fotocopy dan bengkel, hanya saja tempatnya lebih menjorok ke dalam.
Aku makan dengan porsi agak besar, karena memang perutku sepertinya meminta porsi lebih malam ini. Kukeluarkan novel yang aku bawa tadi dari sekre. Ya, aku senang memabaca novel, dimana saja, kapan saja. Kalau masih ada novel yang belum aku tamatkan, pasti aku bawa untuk dibaca, tentunya dalam waktu luang.
Lauk yang kupilih malam ini adalah kerang dan mie. Aku suka sekali mie. 
 
Ku buka novel maddah yang ditulis oleh Risa Saraswati. Novel yang lumayan bagus.
Sedang asyiknya makan, terdengar tiga mahasiswa wanita dating, atau lebih tepat aku panggil mereka dengan akhwat. Ya akhwat, karena terlihat kalau mereka seorang remaja mesjid.  
Bagiku sebutan wanita dan akhwat itu berbeda, walapun pada hakikatnya arti dari kedua istilah tersebut sama. Aku mengartikan akhwat sebagai wanita aktivis dakwah, sedangkan wanita adalah wanita biasa, walau berkerudung, tapi hanya berkerudung. Semoga kalian mengerti apa maksudku.
Aku selalu kagum dengan para akhwat. Akupun tidak punya alsan khusus yang bisa kuutarakan. Tapi aku selalu kagum dengan akhwat.
Tiga orang itu menghampiri bapak tukang warung. Dua orang memsan makanan, mereka berdiri didekat si bapak warung dan menunjukkan lauk pauk yang akan mereka santap. Yang menjadi perhatianku adalah satu akwat yang duduk. Dia belum memesan. Sejujurnya wajahnya memang cantik dan inner beuty yang terpancar dari wajahnya, aku jamin siapa pun tidak akan memalingkan muka dari wajahnya. Aku terdar dari lamunanku. Dan fokusku tertuju pada novel dan makanan. Tapi sesekali aku mengintip dari balik novel yang tengah aku baca. Dia juga sedang membaca sesuatu.
Penasaran, aku mencoba melihat apa yang sedang dia baca. Setelah mengangkat kepala agak tinggi. Subhanallah, sebuah mushaf tengah terbuka ditangannya. Warna pink. Masih aku ingat mushaf itu. Mulutnya yang juga berwarna ping bergerak lembut membaca surat-surat Tuhan untuk umatnya.
Aku tertegun beberapa saat. Jika kalian merasa ini biasa saja, berbeda denganku. Aku merasa ini luar biasa. Di warteg, tempat makan. Tempat manusia memuaskan nafsu makannya. Dia malah membaca Al-Quran.
Merasa curiga ada yang memerhatikan. Dia menoleh kapadaku. Sontak aku terkaget. Langsung kuturunkan kepalaku kebalik novel yang tadi kubaca. Semoga dia tidak melihatku.
Kudengar sekarang dia memesan makanan. Aku tidak berani melihatnya lagi, karena jelas, sememelas apapun aku berdoa agar dia tidak melihatku. Aku tahu dia sudah melihatku.
Kulihat makanan dipiringku sudah habis. Kebetulan aku ingin segera beranjak dari tempat itu. Sungguh aku selalu merasa malu jika berhadapan dengan wanita. Terlebih akhwat.
Aku berdiri, menghampiri kasir dan membayar. Kututup novel maddah dan segera beranjak dari warteg tersebut. Aku masih penasaran dengan sosok akhwat yang sebentar lagi akan kulewati. Tapi apa daya, aku hanya bisa menunduk, tanda malu. Sesaat sebelum aku melangkah pergi, bertepatan dengan dekatnya tubuhku dengan akhwat tersebut, aku berkata lirih “ Bidadari Syurga ”, agak terkejut dengan apa yang kuucapkan. Sepertinya dia mendengarnya.
Aku terus melangkah meninggalkan warteg itu, diujung ujung jalan. Kembali kutolehkan wajahku ke warteg itu, dan dia melihatku seraya tersenyum.
Aku pergi dengan tersenyum pula. Malam yang indah. Aku melihat bidadari syurga di warteg. Haha… cerita yang aneh, tapi ini sungguh terjadi.

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!